Baitullah : Rindu yang tak pernah padam

Baitullah : Rindu yang tak pernah padam
Baitullah : Rindu yang tak akan padam hingga ke akhirku...

Saturday, December 31, 2011

Friday, December 30, 2011

2011 Meninggalkan Kenangan Dengan Fatwa2 'Aneh'

Penyebutan pertama tahun 2011 secara otomatik akan membawa fikiran kita ke revolusi, regim yang digulingkan, dan orang-orang yang tidak puas di dunia Arab. Namun, melihat lebih dekat maka akan mengungkapkan bahwa ada perkara lain yang membezakan tahun 2011: adanya beberapa fatwa "aneh" yang melanda berbagai negara di kawasan itu.
Salah satu fatwa aneh dan paling kontroversi pada tahun 2011 adalah yang dikeluarkan oleh seorang khatib Islam yang tinggal di Eropah. Menurut pengkhotbah ini, wanita dilarang berinteraksi atau makan buah-buahan dan sayuran seperti mentimun, pisang, dan karot. Menyentuh atau memakan benda-benda tersebut, ia berpendapat, akan mengubah dan membuat perempuan mengalami fantasi seksual, karena benda-benda itu menurutnya mirip dengan alat kelamin lelaki.



fatwa 2011 :  buah-buahan/sayur-sayuran  yang diharamkan kepada wanita muslim di eropah
Di Maroko, ketua Asosiasi Riset Fikih Maroko membuat kemarahan dan kontroversi rakyat ketika ia mengeluarkan fatwa yang memungkinkan laki-laki Muslim berhubungan seks dengan isteri-isteri mereka yang telah meninggal dengan dalih bahwa tidak ada dalam Islam yang melarang hubungan seks dengan mayat. Fatwa ini diikuti serangkaian fatwa terkait seks yang dikeluarkan oleh ulama yang sama.
Di Somalia, mujahidin al-Shabaab mengeluarkan fatwa selama bulan suci Ramadhan lalu yang melarang umat Islam memakan sambousak (samosa), kueh segitiga diisi dengan daging, keju, atau sayuran. Makanan ringan yang popular ini, mereka menjelaskan, adalah simbol dari Triniti dalam Kristien dan karena itu haram untuk dimakan oleh umat Muslim.
Di Mesir, maklumat keagamaan dalam kebanyakan kes dicampur dengan politik. Syaikh Amr Sotouhi, ketua Komite khotbah Islam di Al-Azhar, pada bulan November lalu menerbitkan sebuah fatwa yang melarang seorang ayah menikahkan anak perempuannya kepada mantan anggota Parti Demokrat Nasional Mubarak yang berkuasa sebelumnya karena kebanyakan dari mereka adalah koruptor.
Fatwa serupa dikeluarkan oleh Syaikh Imad Iffat, yang terkorban ditembak bulan ini dalam pemberontakan antara demonstran dan tentara Mesir. Fatwa Iffat melarang umat Islam dari memberikan suara untuk anggota partai Mubarak yang dibubarkan dengan alasan yang sama dengan fatwa Amr Sotouhi yaitu korupsi.
Muhamad Abdul Hadi, wakil ketua partai Salafi An-Nur dari Dakahliya mengatakan bahwa hasil pemilihan parlimen, di mana parti mereka mencetak kemenangan tak terduga, telah disebutkan dalam Al-Quran.
Fatwa yang paling keterlaluan di Mesir adalah salah satu yang keluar pada bulan Jun lalu di mana ulama Mesir Muhammad al-Zughbi mengatakan makan daging jin adalah diperbolehkan dalam Islam dan menyebabkan semua orang bertanya-tanya bagaimana orang bisa mendapatkan daging jin.(fq/aby)-sumber eramuslim.

Thursday, December 29, 2011

Ikhwanul Muslimin Mesir Lindungi Gereja

Ikhwanul Muslimin Mesir telah berjanji untuk mencegah serangan dengan kekerasan terhadap komuniti Kristien di negara itu selama perayaan Krismas Koptik. Perayaan Krismas umat Kristien Koptik sendiri diraikankan pada tiap 7 Januari.


"Kami memutuskan untuk membentuk jawatankuasa Ikhwanul Muslimin untuk melindungi gereja-gereja sehingga tangan-tangan pelampau tidak merosakkan perayaan seperti yang sebelumnya pernah terjadi pada regim terdahulu," kata kelompok tersebut dalam sebuah kenyataan yang dikutip dari Al Arabiya.



Kelompok politik yang dibentuk oleh Hasan al Banna yang paling berpengaruh ini meminta kepada penguasa tentera untuk membantu mengamankan gereja-gereja.



"Kami meminta Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata dan polis untuk melindungi gereja-gereja dengan cara yang sama seperti ketika mereka melindungi TPS semasa pilihanraya umum," kenyataan lanjut dari Ikhwanul Muslimin.



Komuniti Kristien Koptik di Mesir berjumlah 10 peratus dari jumlah penduduk disana. [muslimdaily.net]

Tintamuallimah : Inilah dia contoh toleransi Islam.





Kamar Tembus Pandang Di Syurga Itu Untuk Siapa ?


Rasulullah saw pernah bersabda bahawa di dalam syurga itu terbahagi dalam kamar-kamar. Dindingnya tembus pandang dengan hiasan di dalamnya yang sangat menyenangkan. Di dalamnya pula terdapat pemandangan yang tidak pernah dilihat di dunia dan terdapat satu hiburan yang tidak pernah dirasakan manusia di dunia.

"untuk siapa kamar-kamar itu wahai Rasulullah saw ?" tanya para sahabat. " Untuk orang yang mengucapkan dan menyemarakkan salam, untuk mereka yang memberikan makan kepada yang memerlukan, dan untuk mereka yang membiasakan puasa serta solat diwaktu malam saat manusia lelap dalam mimpinya. Siapa yang bertemu temannya lalu memberi salam, dengan begitu beerti telah menyemarakkan salam.  Mereka yang memberi makan kepada ahli dan keluarganya sampai berkecukupan, dengan begitu termasuk orang-orang yang membiasakan diri dengan berpuasa. Mereka yang solat Isyak dan suboh secara berjemaah, dengan begitu beerti termasuk orang yang solat malam di saat orang-orang sedang tidur lelap".  Begitu Nabi menjelaskan sabdanya kepada sahabatnya.

Kita bagaimana ?

Saturday, December 24, 2011

Afdhalnya Jilbab (Jubah) Wanita: Seruan dari Al Quran Dan As Sunnah

 

Masalah pakaian termasuk dalam masalah yang tauqifiyah, iaitu harus sesuai dengan perintah syara’ tanpa ada illat (alasan ditetapkannya). Jadi mode pakaian seorang muslimah harus sesuai dengan hukum syara’ baik yang ada di dalam Al Qur’an maupun As Sunnah.  Oleh karena itu, mode busana muslimah harus memerhatikan batasan aurat, batasan mahram serta batasan tempat dimana perempuan itu berada (kehidupan khusus di dalam rumah atau kehidupan umum). 

 
Dalam kehidupan umum, mode busana muslimah yang tercantum dalam Al Qur’an adalah gabungan antara pakaian bahagian atas iaitu tudung (hijab) (QS An Nuur: 31) dan pakaian bahagian bawah yaitu jilbab (jubah) (QS Al Ahzab: 59).

Busana muslimah harus menutupi seluruh aurat wanita. Imam Abu Dawud meriwayatkan hadith yang bersumber dari penuturan Qatadah, bahawa Nabi saw bersabda: “Jika seorang anak perempuan telah mencapai balligh (sudah haidh), tidak patut terlihat dari dirinya selain wajah dan kedua telapak tangannya (sampai pergelangan tangannya)”.

Batasan Tudung

1.Tidak boleh nipis.
  Imam Malik meriwayatkan hadith dari Al Qomah dari ibunya yang berkata: “Hafshah binti Abdurrohman pernah datang kepada ‘Aisyah dengan mengenakan tudung yang nipis, maka ‘Aisyah mengoyaknya lalu menggantinya dengan tudung yang tebal”.

Bila nipis, maka harus diberi lapisan tebal dibawahnya. Diriwayatkan dari Dihya bin Khalifah lalu Al Kalbi ra yang berkata: Pernah Rasulullah saw diberi beberapa helai kain qibthi lalu beliau memberikan sehelai kepadaku. Beliau bersabda: “Koyaklah menjadi 2 lembar, lalu potong salah satu diantaranya menjadi baju. Bakinya berikan kepada isterimu untuk tudungnya”. Sewaktu Dihya pergi beliau saw bersabda: “Suruhlah isterimu membuat rangkapan kain tebal di bawah tudung itu agar tidak tampak warna kulitnya (kalau hanya kain qibthi yang tipis).

2. Menutupi juyuub (dada)
  Batas minimal panjang tudung adalah menutupi juyuub. Juyuub bentuk jama’ dari jayb (kerah pakaian yang terlipat dan terbuka disekitar leher dan di atas dada pada pakaian). Panjangnya kira-kira 3 lubang kancing baju, sehingga pakaian bisa dimasuki kepala perempuan ketika mengenakan pakaian itu. Allah berfirman:  “….Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudungnya di atas juyuubnya…” (QS An Nuur: 31)

Tudung harus menutupi kepala, rambut, 2 telinga, leher dan dada (juyuub).  Karena perempuan yang telah mencapai balligh maka tidak boleh memperlihatkan seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya (sampai pergelangan tangannya). Beliau saw kemudian melilitkan kain tersebut dengan kedua tangannya kearah pelipis (kepalanya) hingga yang nampak hanya bagian wajahnya”.

Batasan Jilbab (jubah)

Jilbab adalah pakaian muslimah untuk keluar rumah. Allah berfirman:


33:59
“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ”. (QS Al Ahzab: 59)

1.Jilbab untuk menutupi pakaian rumah (2 lapis)
 Hadits dari Ummu ‘Athiyah yang berkata: “Rasulullah saw telah memerintahkan kepada kami untuk keluar (menuju lapangan) pada saat Hari Raya Idhul Fithri dan Idhul Adha, baik perempuan tua, yang sedang haid, maupun perawan.  Perempuan yang sedang haid menjauh dari kerumunan orang yang solat, tetapi mereka menyaksikan kebaikan dan seruan yang ditujukan kepada kaum muslim. Aku lantas berkata: “Ya Rasulullah saw, salah seorang diantara kami tidak memiliki jilbab”.  Beliau bersabda: “Hendaklah salah seorang saudaranya meminjamkan jilbabnya”. 

   Ketika Ummu Athiyah bertanya tentang seseorang yang tidak punya jilbab, tentu perempuan itu bukan dalam keadaan telanjang, melainkan dalam keadaan memakai pakaian yang biasa dipakai di dalam rumah (mihnah), yang tidak boleh dipakai untuk keluar rumah. Lapisan diluar ialah jilbab itu sendiri, manakala lapisan dalam ialah pakaian harian di rumah.

Terdapat riwayat dari Ibnu ‘Abbas yang menyatakan bahwa jilbab adalah kain luar yang berfungsi untuk menutupi pakaian keseharian (di dalam rumah), yang menutupi seluruh tubuh wanita dari atas sampai bawah (leher sampai kaki iaitu jubah)

2.Berbentuk satu potong terusan (bukan 2 potong).
 Dalam bahasa harian, ada yang memanggilnya jubah. Allah SWT berfirman: 
 “…Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka)” (QS Al Ahzab: 59).  Menurut Ali Manshur Nashif dalam kitab At Taaj Al Jaami’ Lil Ushulil fii Ahadits Ar Rasul, “jalaabibihinna” (dalam QS Al Ahzab: 59) adalah bentuk jamak dari jilbaab yang artinya pakaian perempuan yang dipakai di luar kerudung atau baju gamis yang berfungsi menutupi seluruh tubuh.  Menurut kamus Munawir dan Al Ma’louf, jilbab diartikan jubah.

3.Berukuran luas atau lebar
   Al Jawhari dari kamus Ash Shahhab menyatakan: “Jilbab adalah kain panjang dan longgar (milhafah).  Kamus Al Muhith menyatakan: “Jilbab itu laksana terowongan (sirdab) atau lorong (sinmar), yakni pakaian yang longgar bagi perempuan yang dapat menutupi pakaian keseharian (pakaian rumah)”.

4. Tidak boleh transparan, menutupi warna kulit dan menyembunyikan bentuk tubuh
  Usamah telah memberikan kain qibthiyah (jenis kain yang tipis) untuk pakaian isterinya.  Rasulullah saw bersabda: “Suruhlah isterimu untuk mengenakan kain pelapis (puring) lagi dibagian dalamnya, karena sesungguhnya aku khawatir kalau sampai lekuk tubuhnya tampak (terlihat warna kulitnya)”.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: “Perempuan yang mengenakan pakaian yang transparan, yang menyimpang dari hak dan mendorong suaminya menyimpang dari kebenaran, tidak akan masuk syurga, bahkan tidak dapat mencium baunya, sedang bau surga itu dapat ditemui dari jarak lima ratus tahun”.

5.Tidak boleh menjolok mata atau menarik perhatian.
 Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang berpakaian untuk berbangga-bangga (pamer), maka di hari akhir Allah akan memakaikan kepadanya pakaian kehinaan, kemudian membakarnya  bersamanya”.

6.Tidak menyerupai pakaian orang kafir. 
   Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa meniru atau menyerupai cara hidup suatu kaum, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka”. “Barangsiapa yang meniru cara hidup orang musyrik hingga matinya, maka dia akan dibangkitkan di hari akhir bersama-sama mereka”.

7. Tidak menyerupai pakaian lelaki
   Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw melaknat laki-laki yang memakai pakaian perempuan dan perempuan yang memakai pakaian laki-laki”.

8. Diulurkan ke bawah sampai menutupi kedua kakinya (irkha’).     Allah berfirman: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbab atas diri mereka” (QS Al Ahzab: 59). Ibnu Umar menuturkan: “Rasulullah saw bersabda: “Siapa saja yang mengulurkan pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan memandangnya pada hari kiamat”.  Ummu Salamah bertanya: “Apa yang harus dilakukan perempuan terhadap ujung bawah pakaiannya?” Rasulullah menjawab: “Hendaklah diulurkan sejengkal”. Ummu Salamah berkata lagi: “Kalau sudah begitu kedua kakinya masih tampak?”. Rasulullah menjawab: “Hendaklah diulurkan sehasta dan jangan ditambah”.  Riwayat Imam Turmudzi dan Imam Thabrani mengatakan: “Sesungguhnya Nabi saw pernah mengukur satu jengkal buat Siti Fathimah dimulai dari kedua mata kakinya, kemudian beliau bersabda: “Inilah ujung kain seorang perempuan”. 

Dalil-dalil di atas jelas menunjukkan, pemaikaian jilbab (jubah) adalah datangnya dari nas yang amat jelas iaitu AlQuran dan juga as sunnah. Ianya adalah mode pakaian orang-orang mukmin, pakaian sunnah ummul mukminin dan pakaian sunnah wanita-wanita di zaman Rasulullah saw. Ianya bukan pakaian budaya Arab yang disangka oleh kebanyakan kita.

Andainya kita tidak mahu mamakai jubah, pakailah pakaian yang menurut panduan syariat seperti tidak nipis, menyembunyikan warna kulit dan bentuk tubuh, longgar dan memakai warna dan corak baju yang tidak menarik perhatian lelaki, juga tidak boleh menyerupai pakaian lelaki atau orang kafir.
Sumber : Suara Islam Online

Thursday, December 22, 2011

Sebenarnya Kita Berbahagia 7 kali Daripada Ummat Di Zaman Rasulullah.


Suasana di majlis pertemuan itu hening sejenak. Semua yang hadir diam membantu. Mereka seperti sedang memikirkan sesuatu. Lebih-lebih lagi Saidina Abu Bakar.

Itulah pertama kali dia mendengar orang yang sangat dikasihi melafazkan pengakuan demikian. Seulas senyuman yang sedia terukir dibibirnya pun terungkai. Wajahnya yang tenang berubah warna.
"Apakah maksudmu berkata demikian wahai Rasulullah ? Bukankah kami ini saudara-saudaramu ?" Saidina Abu Bakar bertanya melepaskan gumpalan teka-teki yang mula menyerabut fikiran.

"Tidak wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku (Ikhwan)," Suara Rasulullah bernada rendah.
" Kami juga ikhwanmu, wahai Rasulullah," Kata sahabat yang lain pula.

Rasulullah menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum.
Kemudian baginda bersuara, " Saudaraku ialah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku sebagai Rasulullah dan mereka sangat mencintaiku. Malahan kecintaan mereka kepadaku melebihi cinta mereka kepada anak-anak dan orang tua mereka."

Pada ketika yang lain pula, Rasulullah menceritakan tentang keimanan 'ikhwan' baginda.
"Siapakah yang paling ajaib imannya ? " Tanya Rasulullah.
"Malaikat," jawab sahabat.
"Bagaimana para malaikat tidak beriman kepada Allah sedangkan mereka sentiasa hampir dengan Allah," jelas Rasulullah.
Para sahabat diam seketika. Kemudian mereka berkata lagi, "Para nabi."
" Bagaimana para nabi tidak beriman sedangkan wahyu diturunkan kepada mereka."
" Mungkin kami," celah seorang sahabat.
"Bagaimana kamu tidak beriman sedangkan aku berada di tengah-tengah kamu," jawab Rasulullah.
"Kalau begitu, hanya Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui." Jawab seorang sahabat lagi mengakui kelemahan mereka.

" Kalau kamu ingin tahu siapa mereka, mereka ialah ummatku yang hidup selepasku. Mereka membaca Al Quran dan beriman dengan semua isinya. Berbahagialah orang yang dapat berjumpa dan beriman denganku. Dan tujuh kali lebih berbahagia orang yang beriman denganku tetapi tidak pernah berjumpa denganku," Jelas Rasulullah.

" Aku sungguh rindu hendak bertemu dengan mereka," ucap Rasulullah lagi.

Kisah Tha'labah : Muhasabah Kepada Yang Sering Melihat Aurat Ajnabi


Tha'labah bin Abdul Rahman ialah salah seorang daripada sahabat Nabi SAW, seorang pemuda atau remaja hebat berusia 17 tahun yang punya misi dan visi yang sangat jelas dan mulia. Tiada satu pun yang mampu membuat matlamat hidupnya goyah sehinggalah beliau menghembuskan nafas yang terakhir.

Setelah memeluk islam, beliau sering mengikuti Rasulullah SAW mengajar. Jika Rasulullah SAW berhajatkan sesuatu, baginda akan khabarkan kepada Tha'labah dan Tha'labah akan menunaikannya.

Suatu hari Rasulullah SAW menyuruh Tha'labah mencari sesuatu untuk baginda. Ketika dalam pencarian barang yang Rasulullah hajati itu, Tha'labah telah melalui beberapa deretan buah rumah.

Entah bagaimana salah sebuah rumah yang dilaluinya itu, pintu belakang rumahnya terbuka. Angin yang bertiup membuatkan pintu bilik air rumah tersebut turut sama terkuak lebar. Ketika itu Tha'labah dengan tidak sengaja terpandangkan kearah bilik air tersebut lalu terlihatlah akan dia seorang perempuan yang sedang mandi.

" A'uzubillah. Ya Allah aku takut nanti malaikat Jibril akan memberitahu kepada Rasulullah SAW ! Ya Allah, aku takut turunnya ayat quran yang memasukkan aku dalam golongan orang yang berbuat dosa ! Ya Allah.."

Dia merintih sehingga dia terlupa akan barang yang dipesan oleh Rasulullah SAW. Dia melarikan diri dan tejumpa satu bukit di pinggir Madinah yang dipuncaknya ada sebuah gua. Tha'labah masuk ke dalam gua dan menangis berterusan.

Tha'labah menangis dan terus menangis. Alangkah kesalnya beliau akan dosa yang telah dilakukannya. Walhal apa yang terjadi hanyalah perkara yang tidak disengajakannya.

Pada masa yang sama, Rasulullah SAW menantikan kepulangan Tha'labah. sudah beberapa hari berlalu namun Tha'labah tidak kunjung tiba. Lalu Rasulullah mengarahkan Saidina Umar AlKhattab untuk mencari Tha'labah.

Akhirnya Tha'labah ditemui oleh Saidina Umar di tempat persembunyiannya di gua tersebut.
" Tha'labah. Rasulullah mahu berjumpa kamu " Umar menyeru.
" Kenapa ? Sudah turunkah ayat Al Quran tentang dosaku ? Sudah beritahukah Jibril kepada Rasulullah ? Aku tidak mahu masuk neraka." Kata Tha'labah dalam ketakutan yang amat sangat.

Oleh kerana Tha'labah sudah teramat lemah, lalu Saidina Umar memimpinnya pulang ke rumah. Apabila Rasulullah SAW menziarahi Tha'labah, Tha'labah sedang terlentang lalu Rasulullah SAW meriba kepala Tha'labah. Tetapi Tha'labah mengetepikan kepalanya. Maka Rasulullah bertanya " Kenapa wahai Tha'labah ?".
"Wahai Rasulullah, kepala yang penuh dosa ini tidak layak untuk berada di ribamu," Kata Tha'labah dengan linangan air mata.

"Apa yang kamu mahu Tha'labah ?"

" Aku mahukan keampunan Allah."

" Apa cita-citamu wahai Tha'labah ?"

" cita-cita aku hanya syurga Allah. Tolonglah doakan moga Allah mengampunkan dosa-dosaku Ya Rasulullah."

Lalu Rasulullah SAW berkata, "Wahai Tha'labah aku menjamin kepadamu apa yang kau inginkan. Inilah bukti taubatmu ."

Tidak lama selepas itu Tha'labah menghembuskan nafasnya yang terakhir di riba Rasulullah SAW.

Ketika mayat Tha'labah siap dikafan dan tiba masa untuk dikebumikan, Rasulullah pun datang tetapi agak lewat. Para sahabat membuka jalan kepada Rasulullah untuk rapat ke kubur Tha'labah. Sungguhpun begitu, Rasulullah berjalan merapati kubur Tha'labah dengan perlahan dan tersekat-sekat.

Sahabat-sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, kami telah memberi laluan kepadamu, mengapa Rasulullah berjalan dengan tidak selesa ?"

Rasulullah menjawab " Kamu tidak dapat melihat betapa ramainya malaikat yang hadir menghantar Tha'labah ke kubur."

Itulah kisah hidup seorang remaja hebat bernama Tha'labah. Betapa takutnya beliau dengan azab Allah SWT walaupun beliau tidak sengaja terpandangkan perempuan yang sedang mandi. Beliau menjadi begitu malu bertemu Rasulullah, begitu mengharap keampunan Allah SWT, dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir atas ribaan insan agung yang mulia Rasulullah SAW. Jasadnya diiringi ke kuburan oleh para malaikat yang datang berduyun-duyun. Subhanallah.

Bagi diri kita yang sentiasa terpandang aurat wanita (atau ajnabi) sengaja ataupun tidak, lebih2 lagi di ruangan maya ini, adakah ada rasa berdosa dalam jiwa kita ini ?? Ya Allah teramat hinanya kami jika dibandingkan dengan Tha'labah bin Abdul Rahman !! Hina dan amat hina...





Tuesday, December 20, 2011

Meludah Tidak Baik Untuk Rakyat !!



                                                              Tok Guru meludah....


                                                                  Anak murid meludah......





Jangan diajar rakyat meludah...buruk kelaku dan buruk padahnya.

Saturday, December 17, 2011

Manja Isteri

Tak semua orang suka bunga. Ada yang menganggap bunga sebagai simbol kelemahan: pembuat lalai dan pembunuh keberanian. Mereka pun menjauhi bunga. Tapi, bunga tetap bunga. Harum. Indah. Menawan.
Sulit mengungkapkan kata yang pasti buat suami yang bingung dengan manja sang isteri. Memang, manja buat sesetengah suami bisa menyenangkan dan menyegarkan. Ada dunia lain yang ia masuki. Baru dan menarik. Sesuatu yang baru biasanya menyegarkan.
Tapi, ada sebahagian suami yang tidak suka dengan manja. Ia menterjemahkan manja sebagai kekanak-kanakan, cengeng, kurang tegar, lemah pendirian, dan masih banyak sifat lain. Pokoknya, manja serupa dengan kelemahan. Dan Islam tidak suka dengan kelemahan. Dengan kata lain, Islam benci dengan kemanjaan. Benarkah?
Perasaan itulah yang saat ini menggoyang konsentrasi Gani. Satu tahun sudah bahtera rumah tangganya berlayar. Sebuah waktu perjalanan yang tergolong muda. Bahkan, belum apa-apa. Jangankan samudera, pantai tempat berlabuh pun masih jelas terlihat.
Walau belum jauh, dan ombak belum menjadi gelombang besar, Gani tak mau hilang waspada. Pengalaman membuktikan, tidak sedikit kapal karam di tepian pantai. Bisa salah kemudi sehingga merempuh pantai berkarang, atau kapalnya sudah bocor. Sejauh itukah tafsiran Gani dengan manja isterinya?
Sebenarnya, Gani bingung. Isterinyakah yang tergolong super manja. Atau, ia sendiri yang terlalu kaku dan tegas. Tak pernah terbayang Gani kalau ia akan beristeri seperti itu. Dalam bingkai pandangannya, semua akhwat berjilbab pasti tegas: bicara singkat dan padat, tak boros senyum, pantang merayu. Seperti itulah perkiraan Gani ketika meminang isterinya.
Tapi, dunia nyata ternyata berbeda dengan yang maya. Pandangan bisa mengira, tapi faktalah yang akhirnya bicara. Isteri Gani begitu lembut. Bahkan, teramat lembut. Sungguh di luar jangkauan perkiraan Gani. “Kang, pulangnya jangan malam-malam, ya. Nanti masuk angin. Hati-hati, ya, Yang!” Ungkapan itulah yang tiap hari mengantar kepergian Gani ke tempat kerja. Alunannya begitu merdu.
Pernah juga Gani terlanjur kerja hingga malam. Selepas telefon pejabat berdering, suara merdu sang isteri kembali menari-nari di telinga Gani. “Kang, pulangnya teu kenging malem-malem atuh. Teteh sepi, nih, Kang!” Dan suara senyum renyah pun sayup-sayup terdengar menutup pembicaraan.
Apa yang salah dari manja isteri Gani? Mungkin, sebagian suami sama sekali tidak menganggap itu masalah. Bahkan, mungkin terhibur. Cinta yang mulai lelah pun menjadi segar. Tapi, buat Gani lain. Manja isterinya membuat ia mengukur diri. Ada apa dengan saya?
Seperti itulah keadaan Gani. Sering ia memuhasabah diri. Ini anugerah, atau bentuk teguran dari Allah. Memang, semasa lajang, Gani dikenal teman-temannya begitu tegas. Terutama, terhadap perempuan. Ia akan bicara seperlunya, tanpa basa-basi sedikit pun. Jangankan senyum, pandangan pun cuma sesekali mengarah ke lawan bicara. Ia tidak akan meladeni seorang perempuan yang bicara dengan penuh kreasi. Setiap kali itu menggejala, mulutnya selalu memotong, “Intinya?”
Terus terang, Gani memang tidak suka dengan wanita banyak gaya, kaya basa-basi, dan banyak tingkah. Apalagi bermanja-manja. Nah, sifat itulah yang kini di hadapannya. Bagian dari hidupnya. Dan, mungkin akan menjadi pelengkap hidupnya.
Haruskah ia nyatakan ketidaksukaannya dengan terang-terangan, apa adanya. Seperti yang pernah ia nyatakan ke rakan-rakan wanita di rohis dulu. “Bicara kamu mendayu-dayu amat, kayak sinden kurang sajen.” Seperti itukah teguran Gani ke isterinya? Atau, ia abaikan saja semua manja sang isteri, kemudian memperlihatkan sifat tegas. Toh, lambat laun isterinya akan sedar. Tapi?
Gani mendapat pelajaran baru. Ternyata, memimpin rumah tangga tak semudah memimpin rohis. Bahkan, senat sekali pun. Karena dalam rumah tangga bukan cuma pikiran dan ide yang mesti sama, tegangan rasa pun harus seimbang. Salah menterjemahkan rasa, hubungan bisa koslet berpanjangan.
Gani paham kalau tak mungkin menoktahkan manja isteri dengan kalimat tegas. Walaupun, itu sering ia lakukan semasa kuliah dulu. Kali ini persoalannya lain. Salah-salah bertindak, keharmonisan rumah tangga bisa membeku. Retak. Bahkan, pecah tak karuan.
Mungkin, ada maksud baik di balik manja isteri Gani. Ia ingin mengungkapkan rasa cinta apa adanya. Dan cinta mampu menghias apa pun menjadi lebih indah. Ada hiasan-hiasan cinta isteri yang bisa dipahami suami. Tapi, tidak sedikit yang belum. Atau, bahkan tidak sama sekali.
Nah, adakah manja isteri Gani merupakan bentuk lain dari ungkapan hiasan cinta. Itulah yang mengganggu konsentrasi Gani. Kadang, bayang-bayang negatifnya mengatakan lain. Manja isteri bisa membuat suami takut mati: takut berjuang, putus semangat, dan lemah keberanian. Gimana rasanya kalau suami mau berjihad, sang isteri berpesan lembut, “Kang, barisnya jangan terlalu depan. Nanti kena peluru nyasar!”
Allah telah menciptakan pria dan wanita memang untuk berpasangan. Perbedaan dua jenis manusia itu akan menjadikan hidup lebih dinamis. Ada hal yang tidak mampu dilakukan pria, bisa ditangani wanita. Dan ada sifat-sifat wanita yang justru menjadi pelengkap dari kekosongan sifat pada pria. Mungkin, termasuk manja.
Tapi, Islam juga menakar sesuatu dengan ukuran yang imbang dan wajar. Apa pun kalau berlebihan, akan merusak. Umar bin Khattab pernah menyuruh salah satu puteranya untuk menceraikan isteri karena teramat sangat manja. Umar khawatir, anaknya menjadi penakut dan malas berjihad.
Dan, Gani memang mesti punya sikap. Mana manja yang wajar sebagai ungkapan hiasan cinta. Mana manja yang rawan melunturkan semangat perjuangan. Tentunya, sikap itu mengalir tenang melalui aliran cinta hidup berumah tangga.
Tak semua orang suka bunga. Tapi, dari bungalah buah terlahir. Dari bunga pula, taman menjadi indah, dan seribu satu karya seni tercipta. (muhammadnu@eramuslim.com)

Thursday, December 15, 2011

Mantopp !!


Semoga mencelikkan mata masyarakat tentang hakikat hukum Allah. Takbir !!

Umm 'Umara: Perisai Rasulullah SAW Di Uhud

Arrahmah.Com Stories – Umm ‘Umara telah dirahmati dengan pelbagai kehormatan, antaranya adalah kehadiran beliau di Uhud, al-Hudaibiyyah, Khaibar, Hunain dan Peperangan Yamamah. Namun peranan beliau yang paling mulia adalah ketika Peperangan Uhud. Umm ‘Umara telah menyertai peperangan tersebut bersama suaminya, Ghaziya, berserta dua orang anak lelaki beliau. Tugas yang dipertanggungjawabkan ke atas beliau adalah untuk memberi air kepada para Mujahid yang cedera. Akan tetapi Allah SWT telah menetapkan satu peranan yang lebih besar dan mulia untuk beliau.
Maka beliau pun mengatur langkah bersama-sama dengan keluarga beliau dengan sebuah bekas kulit buat mengisi air. Mereka tiba di medan perang pada awal pagi hari. Tentera Islam, ketika itu, sedang menguasai peperangan dan beliau telah pergi melihat keadaan Rasulullah SAW. Pada masa yang sama sebilangan Tentera Islam telah membuat satu kesilapan yang teramat besar – melihatkan tentera Quraish berundur, mereka mula berkejaran mendapatkan harta-benda rampasan perang, melanggar arahan Rasulullah SAW supaya tetap di posisi mereka di atas bukit. Khalib bin Walid, (yang ketika itu belum lagi memeluk Islam), apabila melihat benteng pertahanan yang telah terbuka itu lantas mengepalai serangan-balas ke atas Tentera Islam. Penguasaan peperangan beralih kepada pihak Quraish. Dalam suasana kelam-kabut itu, ramai dari kalangan Tentera Islam panik dan berundur, meninggalkan Rasulullah SAW bersama-sama sekumpulan kecil para Sahabat RA. Di kalangan mereka ini termasuklah Umm ‘Umara.
Melihatkan ramai dari kalangan Tentera Islam yang berundur, Umm ‘Umara lantas berlari ke arah Rasulullah SAW dan mengangkat senjata demi mempertahankan baginda SAW, bersama-sama dengan suami dan kedua anak lelakinya. Rasulullah SAW menyedari yang Umm ‘Umara tidak mempunyai perisai lantas baginda SAW mengarahkan salah seorang daripada mereka yang sedang berundur supaya memberikan perisainya kepada Umm ‘Umara yang sedang bertarung. Setelah mendapat perisai tersebut, Umm ‘Umara mempertahankan Rasulullah SAW menggunakannya bersama-sama dengan busur, anak panah dan juga pedang. Umm ‘Umara diserang oleh tentera berkuda tetapi beliau tidak sekalipun gentar atau berasa gerun. Beliau kemudiannya telah berkata, “Sekiranya mereka itu tidak berkuda seperti kami, nescaya telah kami hancurkan mereka, insha-Allah.”
Abdullah ibn Zayed, anak lelaki beliau, telah mengalami kecederaan ketika peperaang tersebut. Lukanya itu berdarah dengan banyak sekali. Ibunya berlari kepadanya dan membalut lukanya itu. Kemudian Umm ‘Umara memerintahkan anak lelakinya itu, “Maralah dan perangi mereka, anakku!” Rasulullah SAW mengagumi semangat pengorbanan beliau dan telah memuji beliau, “Siapakah yang boleh menanggung apa yang kamu mampu tanggung, Umm ‘Umara!”
Tiba-tiba lelaki yang telah mencederakan anak lelakinya mara dan Rasulullah SAW berkata kepada beliau bahawa inilah lelaki yang mencederakan anaknya. Umm ‘Umara dengan berani mencabar lelaki tersebut, yang menurut anak Umm ‘Umara sendiri, adalah seperti perdu pokok yang besar. Umm ‘Umara mencederakan kaki musuhnya itu, menjatuhkannya sehingga berlutut. Rasulullah SAW tersenyum sehingga menampakkan gigi baginda SAW dan berkata, “Kamu telah membalasnya, Umm ‘Umara!” Setelah lelaki tersebut ditewaskan, Rasulullah SAW kemudiannya berkata “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kamu kemenangan dan menggembirakan kamu atas musuh kamu dan membolehkan kamu menuntut bela.”
Pada satu ketika, Rasulullah SAW telah keseorangan. Melihat peluang keemasan itu, pihak musuh, Ibn Qumay’a segera menyerang Rasulullah SAW sambil menjerit “Tunjukkan Muhammad padaku! Aku takkan selamat sekiranya dia diselamatkan!”. Lantas Mus’ab ibn ‘Umayr, bersama-sama dengan beberapa orang sahabat yang lain, bergegas mempertahankan Rasulullah SAW. Umm ‘Umara yang turut bersama-sama dengan mereka terus menetak musuh Allah itu, walaupun dia memakai dua lapis baju besi. Ibn Qumay’a berjaya menetakkan bahagian leher Umm ‘Umara, meninggalkan luka yang teruk. Rasulullah SAW terus memanggil anak lelaki Umm ‘Umara, mengarahkannya membalut luka ibunya sambil mendoakan kerahmatan dan kesejahteraan ke atas mereka dan menyatakan kemuliaan mereka. Umm ‘Umara, bila menyedari yang Rasulullah SAW menyukai kesungguhan dan keberanian beliau, lantas meminta Rasulullah SAW supaya berdoa agar mereka dijadikan Allah di kalangan sahabat-sahabat Rasulullah SAW di syurga nanti. Selepas Rasulullah SAW berdoa, Umm ‘Umara lantas berkata, “Aku tidak pedulikan apa sahaja yang menimpaku di dunia ini!”
Pada hari tersebut, Umm ‘Umara menerima tiga belas luka dan luka di lehernya terpaksa dirawat selama setahun. Beliau kemudiannya juga menyertai Peperangan Yamama, di mana beliau menerima sebelas luka dan kehilangan tangan.
Keberanian Umm ‘Umara menyebabkan semua para Sahabat RA mennghormati beliau, terutamanya para Khalifah yang akan menziarahi beliau dan sentiasa mengambil berat tentang keadaan beliau. Umar ibn Khattab RA telah menerima kain-kain sutera yang sangat bagus buatannya. Salah seorang yang berada di situ berkata bahawa kain tersebut sangat mahal dan Umar RA patut memberikannya kepada isteri Abdullah ibn Umar, Safiyya bint Abu ‘Ubayd. Umar RA walaubagaimanapun tidak mahu memberikan kain yang sedemikian kepada menantunya. “Ini adalah sesuatu yang tidak akan kuberikan kepada ibn Umar. Aku akan berikannya kepada seseorang yang lebih berhak keatasnya – Umm ‘Umara Nusayba bint Ka’b.” Umar RA kemudian menceritakan bagaimana ketika Peperangan Uhud, beliau mendengar Rasulullah berkata bahawa apabila baginda SAW melihat ke kiri mahupun ke kanan, baginda nampak Umm ‘Umara sedang bertarung di hadapan baginda SAW.
Inilah kehidupan Umm ‘Umara, pejuang yang tetap berdiri apabila ramai yang berundur, yang mengarahkan anaknya yang cedera parah kembali menyertai peperangan yang sengit, dan yang bersedia menggadaikan nyawanya demi menyelamatkan Rasulullah SAW. Sebagai balasan, beliau menerima doa agar dijadikan di kalangan sahabat Rasulullah SAW di syurga.
Moga Allah SWT merahmati para Muslimah kita dengan keberanian, semangat pengorbanan dan istiqamah yang sedemikian.

Khaulah Binti Tsa’labah (Wanita Yang Aduannya Didengar Allah Dari Langit Ketujuh)

Beliau adalah Khaulah binti Tsa`labah bin Ashram bin Fahar bin Tsa`labah Ghanam bin ‘Auf. Beliau tumbuh sebagai wanita yang fasih dan pandai. Beliau dinikahi oleh Aus bin Shamit bin Qais, saudara dari Ubadah bin Shamit r.a yang beliau menyertai perang Badar dan perang Uhud dan mengikuti seluruh perperangan yang disertai Rasulullah saw. Dengan Aus inilah beliau melahirkan anak laki-laki yang bernama Rabi`.
Khaulah binti Tsa`labah mendapati suaminya Aus bin Shamit dalam masalah yang membuat Aus marah, dia berkata, “Bagiku engkau ini seperti punggung ibuku.” Kemudian Aus keluar setelah mengatakan kalimat tersebut dan duduk bersama orang-orang beberapa lama lalu dia masuk dan menginginkan Khaulah. Akan tetapi kesedaran hati dan kehalusan perasaan Khaulah membuatnya menolak hingga jelas hukum Allah terhadap kejadian yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah Islam. Khaulah berkata, “Tidak…jangan! Demi yang jiwa Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh menyentuhku karena engkau telah mengatakan sesuatu yang telah engkau ucapkan terhadapku sehingga Allah dan Rasul-Nya lah yang memutuskan hukum tentang peristiwa yang menimpa kita.
Kemudian Khaulah keluar menemui Rasulullah saw, lalu dia duduk di hadapan beliau dan menceritakan peristiwa yang menimpa dirinya dengan suaminya. Keperluannya adalah untuk meminta fatwa dan berdialog dengan nabi tentang urusan tersebut. Rasulullah saw bersabda, “Kami belum pernah mendapatkan perintah berkenaan urusanmu tersebut… aku tidak melihat melainkan engkau sudah haram baginya.”
Wanita mukminah ini mengulangi perkatannya dan menjelaskan kepada Rasulullah saw apa yang menimpa dirinya dan anaknya jika dia harus cerai dengan suaminya, namun rasulullah saw tetap menjawab, “Aku tidak melihat melainkan engkau telah haram baginya”.
Sesudah itu wanita mukminah ini senantiasa mengangkat kedua tangannya ke langit sedangkan di hatinya tersimpan kesedihan dan kesusahan. Pada kedua matanya nampak meneteskan air mata dan semacam ada penyesalan, maka beliau menghadap kepada Yang tiada akan rugi siapapun yang berdoa kepada-Nya. Beliau berdo’a, “Ya Allah sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu tentang peristiwa yang menimpa diriku”.
Alangkah bagusnya seorang wanita mukminah semacam Khaulah, beliau berdiri di hadapan Rasulullah saw dan berdialog untuk meminta fatwa, adapun istighatsah dan mengadu tidak ditujukan melainkan untuk Allah Ta`ala. Ini adalah bukti kejernihan iman dan tauhidnya yang telah dipelajari oleh para sahabat kepada Rasulullah saw.
Tiada henti-hentinya wanita ini berdo`a sehingga suatu ketika Rasulullah saw pingsan sebagaimana biasanya beliau pengsan tatkala menerima wahyu. Kemudian setelah Rasulullah saw sadar kembali, beliau bersabda, “Wahai Khaulah, sungguh Allah telah menurunkan al-Qur`an tentang dirimu dan suamimu kemudian beliau membaca firman-Nya (artinya), “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang mengajukan masalah kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan [halnya] kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,…sampai firman Allah: “dan bagi oranr-orang kafir ada siksaan yang pedih.”(Al-Mujadalah:1-4)
Kemudian Rasulullah saw menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarat (tebusan) Zhihar:
Nabi : Perintahkan kepadanya (suami Khansa`) untuk memerdekakan seorang budak
Khaulah : Ya Rasulullah dia tidak memiliki seorang budak yang bisa dia merdekakan.
Nabi : Jika demikian perintahkan kepadanya untuk puasa dua bulan berturut-turut
Khaulah : Demi Allah dia adalah laki-laki yang tidak kuat melakukan puasa.
Nabi : Perintahkan kepadanya memberi makan dari kurma sebanyak 60 orang miskin
Khaulah : Demi Allah ya Rasulullah dia tidak memilikinya.
Nabi : Aku bantu dengan separuhnya
Khaulah : Aku bantu separuhnya yang lain wahai Rasulullah.
Nabi : Engkau benar dan baik maka pergilah dan sedekahkanlah kurma itu sebagai kafarat baginya, kemudian bergaulah dengan anak pamanmu itu secara baik.” Maka Khaulah pun melaksanakannya.
Inilah kisah seorang wanita yang mengajukan masalah kepada pemimpin anak Adam a.s yang mengandung banyak pelajaran di dalamnya dan banyak hal yang menjadikan seorang wanita yang mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dengan bangga dan perasaan mulia dan besar perhatian Islam terhadapnya.
Ummul mukminin Aisyah ra berkata tentang hal ini, “Segala puji bagi Allah yang Maha luas pendengaran-Nya terhadap semua suara, telah datang seorang wanita yang mengajukan masalah kepada Rasulullah saw, dia berbincang-bincang dengan Rasulullah saw sementara aku berada di samping rumah dan tidak mendengar apa yang dia katakan, maka kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah…” (Al-Mujadalah: 1)
Inilah wanita mukminah yang dididik oleh Islam yang menghentikan Khalifah Umar bin Khathab r.a saat berjalan untuk memberikan teguran dan nasehat kepadanya. Beliau berkata, “Wahai Umar aku telah mengenalmu sejak namamu dahulu masih Umair (Umar kecil) tatkala engkau berada di pasar Ukazh engkau mengembala kambing dengan tongkatmu, kemudian berlalulah hari demi hari sehingga memiliki nama Amirul Mukminin, maka bertakwalah kepada Allah perihal rakyatmu, ketahuilah barangsiapa yang takut akan siksa Allah maka yang jauh akan menjadi dekat dengannya dan barangsiapa yang takut mati maka dia kan takut kehilangan dan barangsiapa yang yakin akan adanya hisab maka dia takut terhadap Adzab Allah.” Beliau katakan hal itu sementara Umar Amirul Mukminin berdiri sambil menundukkan kepalanya dan mendengar perkataannya.
Akan tetapi al-Jarud al-Abdi yang menyertai Umar bin Khathab tidak tahan mengatakan kepada Khaulah, “Engkau telah berbicara banyak kepada Amirul Mukminin wahai wanita.!” Umar kemudian menegurnya, “Biarkan dia…tahukah kamu siapakah dia? Beliau adalah Khaulah yang Allah mendengarkan perkataannya dari langit yang ketujuh, maka Umar lebih berhak untuk mendengarkan perkataannya. “
Dalam riwayat lain Umar bin Khathab berkata, “Demi Allah seandainya beliau tidak menyudahi nasehatnya kepadaku hingga malam hari maka aku tidak akan menyudahinya sehingga beliau selesaikan apa yang dia kehendaki, kecuali jika telah datang waktu shalat maka aku akan mengerjakan shalat kemudian kembali mendengarkannya sehingga selesai keperluannya.”
(SUMBER: buku Mengenal Shahabiah Nabi SAW., karya Mahmud Mahdi al-Istanbuly dan Musthafa Abu an-Nashar asy-Syalaby, h.242-246, penerbit AT-TIBYAN)

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails

terima kasih dariku...

Tajuk-tajuk saya

Menyentuh Hati-Peristiwa Almarhum Ustaz Fadhil Noor

Syuhada Chechen. Mereka telah memilih Syahid.