Baitullah : Rindu yang tak pernah padam

Baitullah : Rindu yang tak pernah padam
Baitullah : Rindu yang tak akan padam hingga ke akhirku...
Showing posts with label Pandangan. Show all posts
Showing posts with label Pandangan. Show all posts

Tuesday, February 15, 2011

Bolehkah Menggelar Seseorang "Syahid" ?


Assalamualaikum pengunjung budiman. Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam ke atas junjungan Besar Nabi Muhammad saw, keluarga serta sahabat2 baginda, para tabi'in, muslimin muslimat dari segala penjuru alam.

Penganugerahan gelaran syahid kepada orang tertentu dianggap sebagai bentuk pengiktirafan bahwa dia sebagai ahli syurga. Karena tidak ada tempat bagi orang yang benar-benar syahid kecuali syurga. Sedangkan prinsip akidah Ahlussunnah, tidak mempersaksikan bahwa seseorang termasuk penghuni al-Jannah (syurga) kecuali bagi orang yang memang telah dipersaksikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa dia adalah penghuni jannah, samada persaksian dengan menyebutkan sifat secara umum maupun persaksian terhadap individu tertentu.


Namun, sering gelaran tersebut disandangkan kepada individu tertentu dan dipastikan statusnya hanya karena dia dilihat terbunuh di medan perang, menjadi korban dalam aksi demonstrasi seperti di Mesir, atau terbunuh dalam sebuah pertembongan antara satu kumpulan tertentu dengan pihak polis seperti di Memali pada tahun 1985 atau isu Pengebom berani mati yang sering berlaku dewasa ini di negara-negara bergolak dimana ummat Islam dibunuh, dihalau dan ditindas.

Pendapat Pertama
Syaikh Khalid bin Abdillah al-Mushlih dalam Islamway.com menjawab pertanyaan tentang pemberian gelaran syahid kepada orang yang terbunuh dalam peperangan dan aksi intifadhah, bolehkah atau tidak? Lalu beliau menjawab bahwa pendapat jama’ah ulama, tidak boleh seseorang digelarkan (dipastikan) bahwa dia syahid walaupun nampak tanda-tanda kesyahidan secara zahir. Karena syahid sangat bergantung dengan niat dan tujuan seseorang dalam amal tersebut, dan tidak ada jalan mengetahuinya dengan pasti kecuali melalui khabar wahyu.
Inilah dzahir pendapat Imam al-Bukhari rahimahullaah yang menyebutkan dalam kitabnya, “Bab Laa Yuqaalu Fulan Syahid, Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, dari Nabishallallahu 'alaihi wasallam: Allah lebih tahu siapa yang berjihad di jalan-Nya, Allah lebih tahu siapa yang terluka di jalan-Nya.

Larangan ini dikuatkan oleh riwayat Muslim, dari hadits Ibnu Abbas, ia berkata: Umar bin Khathab radhiyallahu 'anhu menyampaikan kepadaku, ia berkata: “Pada saat hari Khaibar, ada beberapa sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menghadap dan berkata, “Si Fulan Syahid, Si fulan Syahid,” sehingga mereka melewati seseorang dan mereka berkata: “Si fulan syahid.” Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

كَلَّا إِنِّي رَأَيْتُهُ فِي النَّارِ فِي بُرْدَةٍ غَلَّهَا أَوْ عَبَاءَةٍ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ اذْهَبْ فَنَادِ فِي 
النَّاسِ أَنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا الْمُؤْمِنُونَ قَالَ فَخَرَجْتُ فَنَادَيْتُ أَلَا إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا الْمُؤْمِنُونَ

Sekali-kali tidak! Sungguh saya melihatnya berada di neraka satu kain burdah atau ‘aba-ah yang diambil tanpa haq.” Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Wahai Ibnu Khatab, sampaikan kepada manusia bahwa tidak akan masuk surga kecuali orang-orang beriman.” Umar berkata: “Lalu aku keluar dan menyampaikan, “Ketahuilah, sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali orang-orang beriman”.” (HR. Muslim)

Hadits lain yang menguatkannya adalah yang dikeluarkan Imam Ahmad dari hadits Umar bin Khathab saat beliau berkhutbah, beliau radhiyallahu 'anhu berkata,

تَقُولُونَ فِي مَغَازِيكُمْ فُلَانٌ شَهِيدٌ وَمَاتَ فَلَانٌ شَهِيدًا وَلَعَلَّهُ قَدْ يَكُونُ قَدْ أَوْقَرَ رَاحِلَتَهُ أَلَا لَا تَقُولُوا ذَلِكُمْ وَلَكِنْ قُولُوا كَمَا 
قَالَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " مَنْ مَاتَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ قُتِلَ فَهُوَ شَهِيدٌ

"Kalian mengatakan dalam peperangan yang kalian ikuti bahwa fulan telah syahid, kalian juga mengatakan fulan meninggal sebagai syahid, padahal mungkin ia berbuat curang ketika berjihad. Janganlah kalian mengucapkan hal itu, namun katakanlah sebagaimana sabda Rasulullah, ”Barangsiapa yang wafat atau terbunuh ketika berjihad di jalan Allah, maka dia syahid”.” (HR. Ahmad no. 342 dan dihassankan Ibnul Hajar dalam al-Fath : 6/90, dari jalur Abul ‘Ajfa’)

Pendapat kedua
Ada juga beberapa ulama yang berpendapat dibolehkan menyematkan gelaran “Syahid” kepada orang yang melaksanakan sebab yang menunjukkan kepada kesyahidan secara zahir, kecuali jika nampak sesuatu yang menghalangi dari disematkannya sifat tersebut seperti berbuat curang seperti mengambil tanpa haq ghanimah. Karena prosedur ini sesuai dengan ketentuan hukum di dunia yang dilihat dari zahirnya. Sedangkan gelaran syar’i ini disematkan kepada seseorang terbatas pada zahirnya. Adapun yang berlaku disebalik zahir itu diadili dengan hukum di akhrirat, maka ilmunya ada pada Allah Ta’ala.



Bukti yang menguatkannya adalah pengakuan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terhadap para sahabatnya radhiyallahu 'anhum saat mengatakan; “Fulan syahid” karena sesuai dengan kondisi zahir dari para korban tersebut. Maka ketika mereka mengatakannya (menyematkan gelar itu) kepada orang yang tidak layak karena pada dirinya ada sesuatu yang menghalangi, maka Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menidakkan gelaran dan mengingkarinya. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Sekali-kali tidak! Sungguh saya melihatnya berada di neraka satu burdah atau ‘aba-ah yang diambilnyanya (tanpa haq).” Dan inilah yang nampak dari perkataan Umar radhiyallahu 'anhu ketika mengingkari gelaran tersebut karena adanya penghalang untuk disematkan gelaran syahid kepada seseorang.

Orang yang melaksanakan satu sebab dari sebab-sebab kesyahidan, sesuai dengan keadaan zahirnya, dan Allah-lah yang Maha tahu tentang hal-hal yang bersifat rahsia. Dan satu hal perlu diingat, bahwa tidak boleh menyematkan nama syar’i ini kepada orang yang melaksanakan yang menghalanginya dari mendapatkan kesyahidan. Apalagi gelaran ini diberikan kepada orang yang tidak melakukan apa-apa usaha yang menyebabkan kepada kesyahidan, maka lebih tidak layak lagi. (Dipetik dari Voice of Islam).

(Fatwa Yusuf al-Qaradawi  Tentang Pengebom Berani Mati

Qaradawi strongly supports Palestinian suicide bombing attacks on Israeli targets, including against civilians and claim there are legitimate form of resistance. Qaradawi also claims that hundreds of other Islamic scholars are of the same opinion.
Defending suicide bombing against Israeli civilians Qaradawi told BBC Newsnight that:
  • "An Israeli woman is not like women in our societies, because she is a soldier."
  • "I consider this type of martyrdom operation as an evidence of God's justice."
  • "Allah Almighty is just; through his infinite wisdom he has given the weak a weapon the strong do not have and that is their ability to turn their bodies into bombs as Palestinians do".)

Monday, January 17, 2011

Lagu 'Kalau Berpacaran' : Macam Bagus Sangat

Kalau mainkan video ini...diharap dapat 'pause'kan bacaan Al Quran di blog ini buat seketika

Assalamualaikum pengunjung budiman. Memang payah nak mengupdate entry blog ini kalau statusnya 'blogger suku masa'. Tapi oleh kerana desakan nak mengasah kemahiran menulis yang memang fitrahnya tidak punya bakat menulis, terpaksalah juga ambil sedikit waktu didapur selepas pulang dari bekerja untuk menaip ala kadarnya. Lebih2 lagi bila terpilih pula sebagai JK Penulisan Kreatif di institut. Ya Allah....di mana kreatifnya hambamu ini....? Bermain dengan nombor-nombor, kira kreatiflah juga sebab di bawah Jab Matematik. Susulan dilantik sebagai JK Penulisan Kreatif pada tahun lepas , maka terwujudlah blog ini sebagai medan mengasah bakat terperam lagi tenggelam. 

Semester ini, saya ditugaskan mengajar pelatih2 guru  Program Persediaan dengan tajuk kursus 'Problem Solving'. Pelajar2 yang baru saya kenali nampaknya bersemangat dan ceria memberikan kerjasama dalam setiap aktiviti yang dijalankan di bilik kuliah. Amat mengujakan saya kerana semester ini majoriti pelajar-pelajar saya  adalah dari Sabah dan Sarawak memberikan pengalaman sosialisasi yang berbeza sebelum ini. 

Ketika memberikan satu aktiviti menyelesaikan satu tugasan 'creative problem solving', pelajar2 saya dari satu kelas ini cuba mencari penyelesaian masalah yang diberi dalam kumpulan sambil menyanyi beramai-ramai. Kelas menjadi agak ceria apabila lagu yang dinyanyikan ialah lagu Suhaimi Meor Hasan bersama penyanyi baru, "kalau Berpacaran".

Saya membiarkan sahaja kerana aktiviti tetap berjalan dengan lancar dan tidak mengganggu P&P. Terdetik kalbu saya untuk bertanya tentang lagu yang dinyanyikan kerana sebelumnya saya sudah terdengar lagu ini, tetapi menyangkakan ia sebuah lagu lama. Maklumlah, lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi tersohor "Epilog Cinta dari Bromley''  yang bersuara 'macho', suatu ketika era 80an, jadi saya tidak menyangka pula beliau telah merakamkan lagu semula. Lagipun.....telah lebih dua dekad mempersetankan dunia artis ini !!!

Eh ! Eh ! Lagu ini memang sedap bunyinya.....macam bagus senikatanya. Menyuruh kita beretika ketika berpacaran !! Menasihati anak-anak muda yang berpacaran supaya menjaga adap sopan dan tata susila berpacaran !!! Wah!.....macam  bagosss . Macam skema !! Tapi...betulkah ? Saya dengar baik-baik senikata lagu itu sekali lagi. Bagi saya secara peribadi tetap mengatakan 'moral values' yang ingin diterapkan dalam lagu ini tetap salah dan bercanggah dengan prinsip2 Islam. Kenapa saya katakan begitu ? Ok lah cuba baca senikatanya baik2 ....

Kalau berpacaran memang banyak pantang larang
menjaga tata susila, ibubapa adik abang
Apabila berdua, carilah tempat yang terang
agar tidak mencoba aksi terlarang

boleh pandang-pandang, jangan pegang-pegang
duduk renggang-renggang, bertambah sayang
biar malu-malu, biar segan-segan
kerana malu itu, perisai orang beriman

kalau berpacaran jangan tunggu lama-lama
kalau dah berkenan, jumpalah ayah dan mama
hantarkan rombongan meminang dengan segera
kalau dah terlambat, nanti kekasihmu disambar buaya

......(seterusnya dengan kata2 dari watak syaitan yang menghasut)


Kesalahan pertama : Frasa 'kalau berpacaran'. Seolah-olah mengizinkan anak2 muda (atau orang2 tua  juga) untuk berpacaran. Konon-kononnya berpacaran itu dibenarkan dengan memenuhi beberapa syarat. Sedangkan dalam Islam dengan jelas telah melarangnya kerana ia termasuk kepada perkara-perkara menghampiri zina.

"Tidak halal bagi seseorang lelaki berkhalwat dengan seseorang wanita yang tidak halal buatnya kecuali ditemani mahram (mahram-orang yang diharamkan nikah / kahwin dengannya. Maka orang atau pihak ketiga yang ada bersama-sama ketika mereka berdua berkhalwat itu adalah syaitan".

Syaitan tetap bersama dan bermati-matian menghasut apabila seorang lelaki dan wanita berdua-duaan walaupun hanya pandang-pandang, duduk renggang-renggang dan tidak bersentuhan. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh kamu yang nyata. 

Kesalahan kedua : Frasa 'boleh pandang-pandang'. Eh ! Ye ke boleh pandang-pandang ni ? Ya memang boleh pandang-pandang dalam soal-soal yang tidak menuntut tarikan syahwat seperti menuntut ilmu, perubatan, perbicaraan dan perkara-perkara yang dibenarkan syariat. Apalah guna sepasang mata diciptakan kalau bukan untuk memandang ? Tapi pandangan mata antara pasangan bukan muhrim adalah termasuk kepada perlakuan yang mendekatkan diri kepada zina.

Pandangan mata ibarat panah beracun sebagaimana sabda Rasulullah saw :

"Sesungguhnya pandangan mata itu adalah anak panah beracun dari panahan iblis". (HR At-Thabrani)

Jika seseorang terkena panah beracun, meskipun anak panah telah dicabut, namun racun tetap akan menjalar di dalam tubuh kita.

Demikianlah pandangan mata, meskipun mata tidak lagi memandang, namun akibat yang ditimbulkan oleh pandangan ini tidak segera hilang. Pandangan itu telah meracuni hati sehingga wajah yang dipandang tetap terbayang difikirannya.

Untuk menghindarkan dari kesan ini Allah swt berfirman :

"Katakanlah kepada orang-orang beriman laki-laki hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS An-Nur : 30)




Kesimpulannya, lagu "Bila Berpacaran" perlu difahami senikatanya dengan betul kerana ada bait-bait ayat yang bertentangan dengan tuntutan Islam. Mungkin lagu ini sekadar nak menasihati anak-anak muda yang berpacaran supaya meminimakan dosa-dosa ketika berpacaran. Dosa tetaplah dosa. Berpacaran tetap dilarang Islam. Berpacaran dengan gaya sopan tetap mengundang dosa lebih2 lagi zina mata yang boleh menjurus kepada zina sebenarnya. Lagu ini yang mempromosikan 'boleh pandang-pandang' adalah salah dan melanggar tuntutan syariat. 


Mungkin ada yang berkata ....ah ! lagu ini sekadar hiburan semata-mata. Begitulah masyarakat kita terlalu dilalaikan dengan hiburan tanpa memikirkan impaknya ( Adakah anda tahu negara kita berada tempat ke-10 negara yang suka berhibur ? Tidakkah ini memalukan kompeni aje ?). Saya benar- benar bimbang ada pendengar-pendengar lagu yang terpengaruh dengan lagu ini dengan mengambil kira 'boleh padang-pandang  sahaja' dan memenuhi beberapa syarat seperti tidak bersentuhan, duduk renggang-renggang dan malu-malu bila berdating. Pendek kata, berdating cara orang berimanlah ! Maka akan bertambahlah pasangan yang berpacaran ni kerana sudah ada tips berpacaran cara halal ...tidakkah begitu ?

Ya Allah lindungilah anak cucu keturunanku  daripada bahaya 'pacaran' . SAY NO TO PACARAN.


LinkWithin

Related Posts with Thumbnails

terima kasih dariku...

Tajuk-tajuk saya

Menyentuh Hati-Peristiwa Almarhum Ustaz Fadhil Noor

Syuhada Chechen. Mereka telah memilih Syahid.