Baitullah : Rindu yang tak pernah padam

Baitullah : Rindu yang tak pernah padam
Baitullah : Rindu yang tak akan padam hingga ke akhirku...
Showing posts with label motivasi. Show all posts
Showing posts with label motivasi. Show all posts

Saturday, March 24, 2012

Masih Pandai Bersyukurkan ?

 

Sahabatku berbaur resah dan segumpal kekesalan

Tentang hari pernikahan yang harus dibatalkan

Tentang penundaan mimpi dan harapan

Jua tentang perihnya nurani dan ragam kepedihan

Kuceritakan sebuah kisah dari seorang saudariku,

Duhai teman, dengarlah berita ini

Suatu kali ada tetanggaku yang sudah tua,

Ia seorang wanita, kala terbangun di pagi hari,

Ia menatap cermin dan hanya melihat tiga helai rambut di kepalanya!

Yah, katanya, “Kurasa aku dapat mengepang rambut hari ini"

Ia sisir dan kepang rambutnya

Alangkah indah hari itu

Kemudian keesokan harinya ia terbangun pada pagi hari

Lalu menatap cermin dan hanya menemukan dua helai rambut di kepalanya!

Ia tersenyum dan berkata, “Saya rasa akan lebih mudah menyisirnya”

Hari itu lebih indah dari hari kemarin baginya

Keesokan harinya ia terbangun dari lelapnya tidur

Pagi itu ia melihat cermin

Dan hanya menemukan sehelai rambut di kepalanya!

“Wow, akan kusisir seperti ekor kuda”, ia gembira dan tetap tersenyum

Hari itu amat jauh lebih menyenangkan dari hari kelmarin baginya

Ia seorang wanita, baru saja sembuh dari sakit

Baru saja kehilangan anak dan suami akibat suatu bencana

Dan baru saja berbagi arti sebuah kesyukuran

Keesokan harinya ia terbangun di pagi indah,

Ia melihat ke cermin dan tersenyum

Padahal tidak ada sehelai rambut di kepalanya!

“Ya!”, ia berseru,

"Saya tidak perlu menyisir rambut hari ini!”

Alhamdulillah, hari itu terasa paling istimewa baginya

Ia memiliki waktu lebih banyak untuk bersujud kepada Sang Pencipta

Waktu nan lebih bermakna dibandingkan dengan pikiran tentang menyisir rambutnya

Sahabatku, tataplah cermin pula

Kita lebih beruntung dari pada sosok wanita yang kuceritakan itu

Negerimu aman dan jauh dari laga pertempuran

Jika hatimu gundah atau bergejolak emosi diri

Merenunglah tentang seorang wanita tanpa sehelai mahkota di kepala

Ingatkan jiwa kita bahawa derita di hadapan hanyalah setitik ujian

Obatnya tak lain adalah syukur kepada-Nya

Pagi ini kita bangun dengan ceria dan bersiap diuji kembali

Sahabatku, ketika kita bicara cinta dan simpati

Kita sering bertumpu pada penilaian manusia

Padahal dalam kalbu ini kita berikrar

Bahwa syukur kepada Ilahi adalah solusi

Memuji-Nya tak sekedar beroleh simpati sejati

Melainkan berbuah ketenangan hati

Menularkan inspirasi

Serta cahaya terang motivasi


Kembalilah tersenyum saat ini juga

Jangan biarkan dirimu makin terpuruk dalam duka

Kita optimalkan usaha dan tegar dalam merajut cita

Bangun kembali asa, duhai teman!

Untailah do’a dalam sujud panjang beriring istighfar

Ungkapkan pujian pada Robb kita, “Syukur Kepada-Mu Adalah Segalanya”

Buat sahabat-sahabatku di ‘medan juang’ yang berbeda-beda, Allah SWT Maha Tahu segala hal yang terbaik buat kita, wallohu’alam.

(bidadari_Azzam, Salam Ukhuwah dari @Krakow, jelang sore, 19 maret 2012)

Friday, February 3, 2012

Biar Aku Ke Medan Perang


“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” [QS. Ali-Imran (3) : 123]
17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriah. Kaum muslimin sedang melaksanakan ibadah puasa. Hari-hari itu, Madinah sedang diliputi ketegangan juga. Bagaimana tidak? Rasulullah saw baru saja mengumumkan kaum Muslimin untuk berperang. Perang Badar. Badar adalah nama sumur yang terletak sekitar 120 Km di barat daya Madinah. Dalam perang ini, jumlah pasukan musyrikin adalah 920 orang, sementara pasukan muslim hanya sebanyak 313 dengan senjata dan peralatan yang sangat terbatas.
Ketika Rasulullah saw memanggil kaum Muslimin yang mampu berperang untuk terjun ke gelanggang perang Badar, terjadi dialog menarik antara Saad bin Khaitsamah dengan Ayahnya yakni Khaitsamah.
Dalam masa-masa itu, panggilan perang seperti itu memang tidak terlalu menghairankan. Kaum Muslimin sudah tidak merasa aneh atau gentar lagi bila dipanggil untuk membela agama Allah dan Jihad fi Sabilillah. Sebab itu Saad berkata kepada Anaknya, "Wahai anakku, aku akan keluar untuk berperang dan kau tinggal di rumah menjaga wanita dan anak-anak."
Memang di rumah itu hanya ada dua orang lelaki saja. Saad dan Khaitsamah. Seperti diketahui, semua lelaki dewasa tanpa uzur diwajibkan berperang. Lagipula, di dada setiap Muslim ketika itu bergelora untuk selalu membela panji-panji Allah. Maka tidak hairan, ketika mendengar perintah ayahnya sedemikian rupa, Saad langsung menjawab,"Wahai ayahku, demi Allah, janganlah berbuat seperti itu. Karena keinginanku untuk memerangi mereka lebih besar daripada keinginanmu. Engkau telah tua dan tidak lagi diwajibkan berperang. Malah harus tinggal di rumah. Maka izinkanlah aku keluar dan tinggallah engkau di sini, wahai Ayahku."
Khaitsamah marah dan berkata kepada anaknya, "Kau membangkang dan tidak menaati perintahku."
Saad tertunduk. Dalam hatinya tidak sama sekali ia ingin membantah Ayahnya dalam urusan apapun. Maka ia pun menjawab, "Allah mewajibkan aku berjihad dan Rasulullah memanggilku untuk berangkat berperang. Sedangkan engkau meminta sesuatu yang lain padaku, sehingga bagaimana engkau rela melihat aku taat padamu tetapi aku menentang Allah dan Rasulullah."
Khaitsamah sekarang yang merenung. Ia berpikir keras. Jika keduanya berangkat berperang, maka siapa yang akan menjaga keluarga mereka? "Wahai anakku,” ujarnya, “Apabila ada antara kita harus ada yang berangkat satu orang baik kau ataupun aku, maka dahulukan aku untuk berangkat."
"Demi Allah wahai ayahku, kalau bukan masalah Syurga, maka aku akan mendahulukanmu." Jawab Saad.
Tampaknya kedua lelaki itu tidak bisa menemukan pemecahan permasalahan itu. Mereka tampaknya tidak rela jika harus tinggal di rumah. Akhirnya setelah disetujui diputuskanlah melalui undian antara dia dan anaknya sehingga terasa lebih adil.
Ternyata, hasil undian menunjukkan bahwa sang anak, Saad-lah yang harus turun ke medan perang. Dia pun turun ke medan Badar. Tetapi belum lama, ia ternyata syahid. Setelah Saad syahid, ternyata Khaitsamah memutuskan untuk berangkat menuju medan pertempuran.
Ketika hal itu diketahui oleh Rasulullah saw, Rasulullah saw tidak mengizinkannya. Hanya saja Rasulullah saw akhirnya mengizinkannya setelah Khaitsamah berkata sambil menangis, "Wahai Rasulullah, aku ingin sekali terjun dalam perang Badar. Lantaran inginnya aku harus mengadakan undian dengan anakku. Tetapi itu dimenangkannya sehingga dia mendapat syahid. Kelmarin aku bermimpi dan di dalamnya anakku itu berkata kepadaku, ‘Engkau harus menemani kami di Surga, dan aku telah menerima janji Allah.’ Wahai Rasulullah, demi Allah, aku rindu untuk menemaninya di Surga. Usiaku telah lanjut dan aku ingin berjumpa dengan Tuhanku."
Setelah mendengar hal itu, akhirnya Rasulullah saw pun mengizinkannya. Khaitsamah bertempur hingga syahid dan insya Allah akan berjumpa dengan anaknya di Syurga.
Kedua anak beranak itu telah menunjukkan kepada dunia bahwa ketika menjalani ibadah puasa pun mereka tetap menjalani aktiviti lainnya, sekalipun berjihad di medan perang.

Friday, January 20, 2012

Khabab bin Arats : Syurga Untuknya

Dia adalah seorang budak sahaya. Bekerja sebagai pandai besi yang ahli membuat pedang dan senjata tajam tersohor sampai ke negeri  tetangga  kota Mekkah. Dialah Khabab bin Arats termasuk salah seorang sahabat yang paling awal memeluk Islam.  Semenjak hari pertama keislamannya di Mekkah, hampir tak ada hari yang dilalui Khabab bin Arts tanpa kesakitan dan penyiksaan. Statusnya sebagai budak seorang wanita musyrik, Ummu Anmar, membuat posisinya sangat sulit dan memprihatinkan. Ummu Anmar memperlakukannya sangat buruk dan kejam. Kepalanya pernah ditusuk dengan besi yang dipanaskan.

Suatu hari datanglah serombongan orang musyrik menuju rumah Khabab bin Arats untuk menanyakan pesanan pedang  mereka  kepada Khabab.  Kebetulan khabab tidak berada di rumah.  Mereka menunggu agak lama. Beberapa saat kemudian muncullah Khabab  dengan wajah terlihat senyuman tanda sukacita. Khabab menyapa para tamunya.  Mereka bertanya  : Apakah sudah engkau selesaikan pedang pesanan kami?”  Khabab tidak menjawab, namun ia bergumam ”sungguh sangat menakjubkan keadaan ini,''  seolah-olah ia berbicara sendiri,  dan para tamunya merasa keheranan melihat kelakuan Khabab :
"Hai Khabab keadaan apa yang kamu maksudkan,  yang kami tanyakan apakah pedang kami sudah selesai kamu buat? Dengan pandangan menerawang seolah mimpi, Khabab lalu bertanya apakah kalian sudah melihatnya? Apakah juga kalian sudah pernah mendengar ucapannya? 

Ternyata yang dimaksud Khabab adalah Rasulullah Muhammad Saw.  Maka marahlah  para tamunya. Mereka  kemudian menyiksa dan menganiaya Khabab sampai berdarah-darah hingga  pengsan. Ketika siuman Khabab tidak mendapati lagi orang-orang yang menyiksanya dan ia pun mengubati lukanya  sendiri. Penyiksaan itu  berulang ulang terjadi, dan bukan hanya menimpa dirinya saja tapi juga sahabat-sahabatnya yang lain.      
    
Khabab datang menemui Rasulullah Saw. yang sedang beribadah di Ka'bah. Ia mengadukan ketidakmampuannya menghadapi penyiksaan yang bertubi-tubi : "Wahai Rasulullah, bukankah kita berada di atas kebenaran?! Lalu mengapa Allah tidak segera memberikan kemenangan? Khabab mendesak Rasulullah untuk segera berdo'a kepada Allah, meminta kemenangan.
Mendengar keluhan Khabab, wajah Rasulullah memerah, beliau berkata: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman sebelum kalian, ada yang ditanam hidup-hidup separuh badannya, lalu kepalanya digergaji hingga terbelah menjadi dua bagian. Ada pula yang disisir kepalanya dengan sisir besi yang dipanggang dengan api, hingga tulang dan otot kepala mereka kelihatan, tapi hal itu tidak membuat mereka meninggalkan agama dan keyakinannya. Demi Allah, sungguh akan datang suatu masa di mana para pengendara bisa berjalan dari Shan'a ke Hadramaut, tidak merasakan takut selain pada Allah dan serigala yang akan menerkam gembalaannya, tapi kalian tergesa-gesa."

Mendengar ucapan Rasulullah Saw, keimanan Khabab dan sahabat-sahabat lainya makin teguh dan masing-masing berikrar untuk membuktikan kepada Allah dan Rasulnya. Pada suatu hari Rasulullah Saw lewat dihadapan Khabab yang  sedang  disiksa dengan besi panas yang ditaruh diatas kepalanya,  membakar dan menghanguskannya. Kalbu Rasulullah menjadi pilu dan hiba hati.  Pada saat itu jumlah musuh sangat banyak dan Rasul pun tidak dapat berbuat banyak dan hanya mampu berdo'a ''Ya Allah limpahkanlah pertolonganmu kepada Khabab!'' dan do'a Rasulullah pun terkabul, Ummu Anmar mendapatkan balasan penyakit panas yang aneh dan mengerikan, melonglong seperti anjing yang kepanasan yang obatnya hanya dengan diseterika sampai akhir hayatnya penyakit itu tidak pernah sembuh.

Akhir Wafatnya
Ketika Khabab sedang sakit  mendekati ajal, banyak para sahabat yang menengoknya. Khabab melihat pada kain kafan yang telah disediakan untuknya.  Kain kafan itu mewah dan berlebihan.  Khabab kemudian menangis seraya berkata, ''lihatlah ini kain kafanku yang sangat berlebihan dan mewah, bukankah kain kafan Hamzah bin Abdul Mutholib sebagai syuhada Uhud hanyalah burdah berwarna abu-abu yang apabila ditarik ke bawah kepalanya kelihatan dan apabila ditarik ke atas kakinya kelihatan,'' dan ia pun meminta nanti apabila wafat dikafani kain biasa saja,''

Khabab bin Arats akhirnya Wafat di tahun ke 37 H dengan meninggalkan pelajaran yang sangat berharga sebagai sahabat yang memiliki banyak penderitaan dan kesengsaraan hidup di dunia tapi Allah Swt membayarnya dengan kesenangan di akhirat,  Syurga!

Thursday, December 29, 2011

Kamar Tembus Pandang Di Syurga Itu Untuk Siapa ?


Rasulullah saw pernah bersabda bahawa di dalam syurga itu terbahagi dalam kamar-kamar. Dindingnya tembus pandang dengan hiasan di dalamnya yang sangat menyenangkan. Di dalamnya pula terdapat pemandangan yang tidak pernah dilihat di dunia dan terdapat satu hiburan yang tidak pernah dirasakan manusia di dunia.

"untuk siapa kamar-kamar itu wahai Rasulullah saw ?" tanya para sahabat. " Untuk orang yang mengucapkan dan menyemarakkan salam, untuk mereka yang memberikan makan kepada yang memerlukan, dan untuk mereka yang membiasakan puasa serta solat diwaktu malam saat manusia lelap dalam mimpinya. Siapa yang bertemu temannya lalu memberi salam, dengan begitu beerti telah menyemarakkan salam.  Mereka yang memberi makan kepada ahli dan keluarganya sampai berkecukupan, dengan begitu termasuk orang-orang yang membiasakan diri dengan berpuasa. Mereka yang solat Isyak dan suboh secara berjemaah, dengan begitu beerti termasuk orang yang solat malam di saat orang-orang sedang tidur lelap".  Begitu Nabi menjelaskan sabdanya kepada sahabatnya.

Kita bagaimana ?

Thursday, December 22, 2011

Sebenarnya Kita Berbahagia 7 kali Daripada Ummat Di Zaman Rasulullah.


Suasana di majlis pertemuan itu hening sejenak. Semua yang hadir diam membantu. Mereka seperti sedang memikirkan sesuatu. Lebih-lebih lagi Saidina Abu Bakar.

Itulah pertama kali dia mendengar orang yang sangat dikasihi melafazkan pengakuan demikian. Seulas senyuman yang sedia terukir dibibirnya pun terungkai. Wajahnya yang tenang berubah warna.
"Apakah maksudmu berkata demikian wahai Rasulullah ? Bukankah kami ini saudara-saudaramu ?" Saidina Abu Bakar bertanya melepaskan gumpalan teka-teki yang mula menyerabut fikiran.

"Tidak wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku (Ikhwan)," Suara Rasulullah bernada rendah.
" Kami juga ikhwanmu, wahai Rasulullah," Kata sahabat yang lain pula.

Rasulullah menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum.
Kemudian baginda bersuara, " Saudaraku ialah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku sebagai Rasulullah dan mereka sangat mencintaiku. Malahan kecintaan mereka kepadaku melebihi cinta mereka kepada anak-anak dan orang tua mereka."

Pada ketika yang lain pula, Rasulullah menceritakan tentang keimanan 'ikhwan' baginda.
"Siapakah yang paling ajaib imannya ? " Tanya Rasulullah.
"Malaikat," jawab sahabat.
"Bagaimana para malaikat tidak beriman kepada Allah sedangkan mereka sentiasa hampir dengan Allah," jelas Rasulullah.
Para sahabat diam seketika. Kemudian mereka berkata lagi, "Para nabi."
" Bagaimana para nabi tidak beriman sedangkan wahyu diturunkan kepada mereka."
" Mungkin kami," celah seorang sahabat.
"Bagaimana kamu tidak beriman sedangkan aku berada di tengah-tengah kamu," jawab Rasulullah.
"Kalau begitu, hanya Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui." Jawab seorang sahabat lagi mengakui kelemahan mereka.

" Kalau kamu ingin tahu siapa mereka, mereka ialah ummatku yang hidup selepasku. Mereka membaca Al Quran dan beriman dengan semua isinya. Berbahagialah orang yang dapat berjumpa dan beriman denganku. Dan tujuh kali lebih berbahagia orang yang beriman denganku tetapi tidak pernah berjumpa denganku," Jelas Rasulullah.

" Aku sungguh rindu hendak bertemu dengan mereka," ucap Rasulullah lagi.

Thursday, December 8, 2011

Kisah Benar: Akhir hayat penggemar muzik dan pencinta Al-Qur'an

Saif Al Battar
Senin, 21 November 2011 16:58:12
Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar do’a ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.
Aku sungguh heran. Bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri: “Alangkah sabarnya mereka…setiap hari begitu…benar-benar mengherankan!”
Aku belum tahu bahwa di situlah kebahagiaan orang mukmin, dan itulah shalat orang-orang pilihan…Mereka bangkit dari tempat tidumya untuk bermunajat kepada Allah.Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah. Padahal berbagai nasihat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu.
Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan ke kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing.
Di sana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati.
Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. 
Pekejaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi. 
Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. 
Aku bingung dan sering melamun sendirian…banyak waktu luang…pengetahuanku terbatas.
Aku mulai jenuh…tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentult penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah suatu peristiwa yang hingga kini tak pernah kulupakan.
Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol…tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengalihkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban.
Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil daIam kondisi sangat kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah.
 Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat.
Ucapkanlah “Laailaaha Illallaah…Laailaaha Illallaah…” perintah temanku.
Tetapi sungguh mengherankan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding.Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat…Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat.
Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi… keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.   
Tak ada gunanya…
Suara lagunya semakin melemah…lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak… keduanya telah meninggal dunia.
Kami segera membawa mereka ke dalam mobil.
Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatah pun. Selama pejalanan hanya ada kebisuan, hening. 
Kesunyian pecah ketika temanku memulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata: “Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia”. Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku Islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.
Perjalanan ke rumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat.
Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat kusyu’ sekali.
Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu.
Aku kembali pada kebiasaanku semula…Aku seperti tak pemah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pemah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu.
* Kejadian Yang Menakjubkan… Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu…sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku.
Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota.
Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri di belakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itu pun langsung tersungkur seketika.
Aku dengan seorang kawan, -bukan yang menemaniku pada peristiwa yang pertama- cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapatpenanganan.
Dia masih muda, dari tampangnya, ia kelihatan seorang yang ta’at menjalankan perintah agama.
Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.
Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an…dengan suara amat lemah.
“Subhanallah! ” dalam kondisi kritis seperti , ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran? Darah mengguyur seluruh pakaiannya; tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati.
Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu. Selama hidup aku tak pernah mendengar suara bacaan Al Quran seindah itu. Dalam batin aku bergumam sendirian: “Aku akan menuntun membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu… apalagi aku Sudah punya pengalaman,” aku meyakinkan diriku sendiri.
Aku dan kawanku seperti kena hipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an yang merdu itu. Sekonyong-konyong tubuhku merinding menjalar dan menyelusup ke setiap rongga.
Tiba-tiba suara itu berhenti. Aku menoleh ke belakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Kupegang tangannya, detak jantungnya nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal dunia.
Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah  wafat. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis, air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan.  
Sampai di rumah sakit…
Kepada orang-orang di sanal kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya.
Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah, semua ingin ikut menyalatinya.
Salah seorang petugas tumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantarkan jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkan ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari Senin. Di sana, almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin. Ketika tejadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang ia santuni. Bahkan ia juga membawa permen untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil.
Bila ada yang mengeluhkan-padanya tentang kejenuhan dalam pejalanan, ia menjawab dengan halus. “Justru saya memanfaatkan waktu perjalananku dengan menghafal dan mengulang-ulang bacaan Al-Qur’an, juga dengan mendengarkan kaset-kaset pengajian, aku mengharap ridha Allah pada setiap langkah kaki yang aku ayunkan,” kata almarhum.
Aku ikut menyalati jenazah dan mengantarnya sampai ke kuburan.
Dalam liang lahat yang sempit, almarhum dikebumikan. Wajahnya dihadapkan ke kiblat.
“Dengan nama Allah dan atas ngama Rasulullah”.
Pelan-pelan, kami menimbuninya dengan tanah…Mintalah kepada Allah keteguhan hati saudaramu, sesungguhnya dia akan ditanya…
Almarhum menghadapi hari pertamanya dari hari-hari akhirat…
Dan aku… sungguh seakan-akan sedang menghadapi hari pertamaku di dunia. Aku benar-benar bertaubat dari kebiasaan burukku. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosaku di masa lalu dan meneguhkanku untuk tetap mentaatinya, memberiku kesudahan hidup yang baik (khusnul khatimah) serta menjadikan kuburanku dan kuburan kaum muslimin sebagai taman-taman Surga. Amin…(Azzamul Qaadim, hal 36-42)
Sumber :Arrahmah.com  8 Dis 2011

Sunday, December 4, 2011

Lelaki Yang Wajahnya Bercahaya

Ya Allah beratnya ujian yang ditimpakan ini. Yang Allah tolonglah aku. Ya Allah berilah aku kekuatan. Ya Allah aku serahkan segalanya kepada Mu ya Allah. Aku pasrah  yang Allah. Kerdilnya aku, hinanya aku. Tidak berdaya melainkan daya dan upayaMu ya Allah.

Di siang hari itu, Nurr dibebani dengan masalah yang dirasanya seakan-akan gunung menghempap kepalanya. Amat berat yang tidak tertanggung kudratnya untuk memikul di pundak. Baginya inilah sebesar-besar fitnah yang dihadapinya semenjak  menumpang di muka bumi Allah. Amat jahat, lagi keji fitnah itu. Apalah dosanya hingga fitnah itu dihamburkan kepadanya. Seingatnya dia tidak pernah  sengaja untuk melukai hati sesiapapun. Nurr adalah wanita kecil yang dhaif semahu-mahunya melaksanakan ajaran dan sunnah Rasulullah selagi terdaya dan mampu diturutinya. Rasulullah mengajarkan kasih sayang, bermaaf-maafan, menolong, membantu saudaranya, menghormati yang tua, mengasihi yang kecil, berbaik sangka, bertolak ansur dan segala akhlak-akhlak terpuji. Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada suri tauladan yang baik. Dan Rasulullah diutuskan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Nurr telah meletakkan kecintaan utamanya kepada Allah dan RasulNya, mana mungkin dia berbuat onar terhadap sesama manusia. Bukan itu prinsip hidupnya.

 Oh ! Ujian. Tidaklah kamu dikatakan beriman selagi kamu tidak diuji. Nurr cuba mencari kekuatan dalaman.

Airmata Nurr bercucuran, bertali arus tanpa henti. Jiwa halus yang mudah tersentuh ibarat semalu desa yang terbiar menjalar. Ya Allah...Ya Allah...Ya Allah...Nurr terus-terusan mengadu. Kecewa, pedih dan amat hiba. Namun...Nurr dengan kekuatan hati yang masih tersisa berkata " Biarlah...aku maafkan dia. Allah kan ada.."

Nurr telah melihat seorang lelaki  dari kejauhan disebuah kawasan berbukit-bukit dan berbatu-batu yang hanya ditumbuhi pohon2 kecil. Aneh tempat itu, tidak banyak pokok-pokok hanya dipenuhi batu-batuan dan rumah-rumah yang berbatu putih. Nurr berada di mana ni ?  

Pemuda yang dilihatnya itu berjalan tangkas, tubuhnya sasa, berjubah putih, berwajah tampan, berkening lebat hampir tercantum keduanya.Eh ! Bukan pemuda Melayu..tapi...pemuda Arab ? Nurr tak pernah melihatnya sebelum ini !! Dia makin hampir dengan Nurr...Nurr berdebar-debar. 

Lelaki itu memalingkan wajahnya kepada Nurr dengan senyuman dan salam. Wajahnya bercahaya ! Wajahnya bercahaya !! Nurr kaget, air mata berderai tanpa-putus-putus. Dia memberi salam kepada Nurr!! MasyaAllah wajahnya bercahaya seperti purnama. Betapa indahnya!! Belum pernah lagi Nurr melihat seseorang yang wajahnya bercahaya.

Pemuda itu lantas memasuki ke sebuah rumah yang didalamnya ada 10 lelaki yang juga berserban dan berjubah menunggu kedatangan pemuda yang wajahnya bercahaya itu. Juga terdapat kaum-kaum ibu yang turut menunggunya .  Siapakah orang-orang itu ? Apakah itu majlis zikir ? Nurr tidak pasti. Nurr tidak mengenali kesemua mereka..Nurr tidak nampak wajah-wajah mereka kerana mereka membelakangi Nurr. Nurr kaget lagi. Pemuda itu amat kasihkan anak-anak kecil. Mendukung dan bergurau-gurau dengan seorang bayi kecil menjelirkan lidahnya dan bayi itu ketawa lantas diserahkan semula sebelum masuk bertemu 10 lelaki tadi. Nurr hanya kenal bayi itu. Bayi itu adalah anak Nurr sendiri !! Nurr kaget . 

Beratus ribu orang, mungkin berjuta, tidak tahu mana asal mereka, datang untuk bersolat dan berimamkan pemuda yang wajahnya bercahaya itu disebuah lapangan berbatu bata. Nurr juga mahu ikut serta. Nurr hanya mendapat saf terakhir yang bertempat dipersisiran pantai . Nurr tidak lagi nampak lelaki itu dek kerana jauhnya dia mengimami di saf hadapan. Namun ombak telah mengganggu solat Nurr. Nurr terpaksa melayan ombak sehingga solat jemaah zohor terlepas . Terpaksalah Nurr solat secara solo. 

Nurr tak peduli. Nurr menunggu di safnya sehingga waktu asar walaupun menunggu lama ditengah panas. Nurr akan pastikan akan dapat bersolat berjemaah dengan berimamkan lelaki yang wajahnya bercahaya itu. Maka sampailah waktu asar. Dengan takdir Allah, masih di saf paling belakang , ombak memukul Nurr lagi...maka terlepaslah pula solat asar berjemaah. Sekali lagi Nurr bersolat bersendirian. Kenapa ditakdirkan begini ? Hinanya aku...hinanya aku. Nurr kesedihan.

Tiba-tiba Nurr tersedar..terperanjat...dia terjaga !! Nurr bermimpi ! Nurr bermimpi ! Air mata tidak putus-putus membanjiri wajah Nurr. Selimutnya basah. Allah humma solli 'ala Muhammad. Allah humma solli 'ala Muhammad. Allah humma solli 'ala Muhammad. Allahu akbar! Allahu akbar ! Nurr tidak putus-putus bersyukur sambil memeluk suaminya disisi. Suaminya kaget ! Kasih rahmatMu Ya Allah. Engkau telah beriku kekuatan kerana ujian yang kuhadapi !! Engkau telah menolongKu ya Allah. Syukur Ya Allah. Terima kasih yang Allah kekuatan yang Kau berikan. Nurr terus menangis ..bercucuran air mata tanpa hentinya....kali ini kerana gembira  dan bersyukur .

Monday, September 19, 2011

Perkongsian Dari Sahabat Kaunselor (Mak Ha): Goal Praying Umrah

Dengan nama Allah yang maha Pemurah lagi maha Mengasihani
Salam to all anak2 buah mak Ha yang dirahmati Allah. Moga kita sering masuk ke hati dan berbicara dari hati.

Rasa teruja seperti biasa untuk berkongsi dengan sahabat2 agar kita dapat manfaat dari makna sesuatu peristiwa dan pengalaman yang berlaku dalam hidup kita sehari2. Moga perkongsian ini bebas dari hambatan2 yang ada yang akan merosakkan aliran energi positif mengalir ke dalam hidup kita.

Balik dari ‘Apperentice Vegas Pro’ di Bagan Lalang tempohari, sepanjang perjalanan duk sembang dengan anakanda azzat tentang ‘spiritual marketing’. Sempat juga mak Ha bersma dengan pak Din bercerita jauhnya perjalanan ke Bagan Lalang. Pak Din sempat berseloroh yang berbaloi la kalau dapat RM1k untuk talk dua jam. Mak Ha memberi respon, ‘Biar Allah aja la yang membalasnya’ dan pak Din menjawab lebih kurang maksudnya, ‘balasan di sisi Allah tu lebih bernilai’. Pas solat asar rasa teruja untuk melihat dan mengingat semula content bahan presentations yang telah dibuat tetapi tidak dapat digunakan dalam sharing dengan sahabat2..terutamanya bahan untuk pagi ahad tu yang rasanya tak pernah dibuat sebelum2 ini…idea yang datang dari hati untuk sharing dengan sahabat2 yang ada.

So selepas buat catatan apa yang teringat ( sebahagiannya je yang ingat..hehe), teruja pula nak buat goal praying. Ada dua goals yang terdekat; sebuah notebook canggih dan umrah akhir Ramadhan 2011. Dah dua tiga minggu yang lepas, dua impian dan keinginan ni datang…notebook untuk kuliah di tempat kerja dan training..umrah akhir Ramadhan..Subhanallah. Berseloroh dengan pak Din yang mak Ha nakkena beli notebook baru, nak pergi umrah Ramadhan, nak ganti ke empat-empat tayar gen2 dan nak kena ganti handphone yang baru jatuh dengan begitu teruknya. Pak Din kata, ‘wah…banyaknya nak kena ganti…’

Rasanya pagi ni sempat sharing tentang umrah akhir Ramadhan. Bermula dengan tawaran dari sahabat baik yang sangat dekat di hati sebab dialah sahabat yang pertama mendengar dan dapat menerima malah bersedia praktis goal praying bersama. Ketika sahabat tersebut datang ziarah kali ke 3 di IJN bulan disember 2010 yang lalu, dia sempat membisikkan di telinga…’Ha, kalau ko sihat lepas ni, aku nak sponsor ko pi umrah Ramadhan tahun ni….’. Tersenyum gembira dan dapat momentum luar biasa untuk cepat sembuh.

Masa begitu pantas berlalu selepas peristiwa IJN dan di antara tugas spiritual yang perlu diselesaikan adalah puasa qada’ selama 15 hari yang masih belum berganti sehari pun sedangkan Ramadhan tahun  ni semakin hampir. Entah sejak bila dan dah berapa tahun agaknya tapi ‘lama’nya waktu tu sehingga buat diri ni lupa bagaimana rasanya berpuasa Ramadhan dan qada’ puasa dalam keadaaan sihat dan berkemampuan untuk melakukannya. Bertahun-tahun berpuasa dengan penuh kepayahan tetapi Allah maha menolong dan maha mengasihani akan hamba-hambaNYA yang ingin menyahut cintaNYA. Begitu lah keadaannya bila berpuasa apatah lagi Ramadhan 2010 dilalui dalam keadaan yang sangat tidak sihat fizikalnya dan banyak yang perlu
diqada’kan.

Pendekkan ceritanya, akhirnya dua minggu lepas, mak Ha berjaya melakukannya…qada’ puasa 15 hari dalam masa 3 bulan.. Rasa terharu dan kegembiraan yang sukar digambarkan di sini tapi sempat meluahkan kata-kata ‘Alhamdulillah, segala puji bagiMu ya Allah dan terima kasih ya Allah kerana mengizinkannya berlaku pada diriku’. Walaupun mungkin ketika itu ‘fikiran’ menyatakan apalah yang nak digembirakan sangat tentang hal itu kerana orang lain berkejar-kejar melakukan puasa sunat sepanjang tahun terutamanya di bulan Rejab dan Syaaban..(hehe). Petang tu sebelum berbuka puasa, sempat sms suami untuk berkongsi rasa syukur dan gembira. Di sebalik rasa bersyukur kerana dapat qada’ puasa, terdapat rasa syukur yang lebih luar biasa iaitu ’rasa mampu’ berpuasa yang dititipkan Allah ke dalam diri ini yang entah sekian lama menghilang. Lebih jauh dari itu, tentunya rasa ‘macam dah jauh lebih sihat dari tahun-tahun sebelumnya terutama selepas peristiwa di IJN tempoh hari. Mungkin sahabat-sahabat yang datang ziarah di IJN dapat menggambarkan keadaan ketika itu.

Di antara sms kepada pak Din, ‘…rasa rindu untuk ke Mekah dan bestnya kalau dapat pergi mengerjakan umarah akhir Ramadhan tahun ini untuk menyatakan rasa syukur ini…’
Rasa tak sempat nak cerita panjang lagi..pagi ni teruja untuk pergi recharge ESQ training di Flamingo. Doakan dapat sharing lagi…

Pendek cerita, selepas ‘Asar dari Bagan Lalang, mak Ha duduk atas katil buat goal praying petang tu dan visualisasikan sedang mengerjakan umrah…tetiba datang perasaan yang sangat positif hingga tak sedar mengalirkan air mata…walaupun saat itu dan hingga ke saat ini, mak Ha belum nampak lagi jalan bagaimana untuk ke sana terutamanya kekangan kewangan dan kesihatan yang tidak mungkin memampukan diri ini melakukannya ketika ini..sejak keluar IJN, hampir seluruh gaji tiap bulan disalurkan untuk ikhtiar kesembuhan diri fizikal, spiritual, mental dan emotional.

Alhamdulillah ada pak Din yang sentiasa memberi sokongan..hehe. Walau pun sahabat baik mak Ha janji nak biayai mak Ha tapi hati kecil ni rasa lebih aman dan selesa kalau dapat pergi umrah atas biaya sendiri dan tidak mengharap bantuan apatah lagi pembiayaan orang lain. Walau pun sebulan dua yang lepas (masih duduk di rumah bercuti sakit yang panjang) dia ada menanyakan samada mak Ha nak pergi ikut dia atau tidak…dan sambil bergurau mak Ha mengatakan ‘..kalau orang nak belanja, merangkak pun sanggup pergi..’. Kami gelak bersama dan isu tersebut tidak dibincangkan lebih lanjut kerana waktu itu memang keadaan fizikal tidak mengizinkan pun. Lagi pun, mak Ha memang mengenalinya dan hasil dari perbualan kami menunjukkan tanda-tanda yang dia pun belum ada kewangan yang mencukupi untuk dia sekeluarga seramai dua belas orang untuk pergi umrah Ramadhan tahun ini. Setiap tahun sekurang-kurangnya sekali dia akan pergi sekeluarga dan sekurang-kurangnya seramai sepuluh orang keluarga yang lain akan dibawa bersama dan dibiayai sepenuhnya. Tentunya memerlukan kos yang agak lumayan gitu. Lagi pun hati kecil ini bercadang hendak membawa seseorang yang akan menemani dan membantu mak Ha di sana. Tak bercadang nak bawa anakanda Azzat sebab nak bagi peluang pada orang lain ke sana terutamanya mak Ija dan ayah Me. Kan anakanda Azzat dah diberi peluang oleh NYa untuk mengerjakan umrah dan Haji waktu usianya muda. Petang tu telefon mak Ija dan mak Ija terkejut dengan pelawaan tersebut. Selepas tu telefon pula Muaz dan Muaz gelak-gelak dan bertanya mak Ha ke nak biayai dia. Mak Ha menjawab, sekarang ni bukan lagi zaman makcik belanja anak buah, anak buah la kena belanja makcik. Muaz bertanya ‘..baper la agaknya kos pergi umrah tu..’. Mak Ha menjawab ‘boleh la tahan bila Ramadhan ni antara tujuh hingga lapan ribu…’. Muaz pula memberi respon ‘wah…mana nak cari duit tu…’. Bila jumpa Maya malam tu di rumah mak Ina, terus bertanya, ‘jadi ke Maya planning umrah kita masa kat IJN dulu…?’ Tersenyum-senyum Maya, ‘tak jadi la mak Ha sebab…..’. Mak Ha menjawab lebih kurang begini, ‘mak Ha pun belum nampak jalannya tapi goal tu terpahat di hati mak Ha sejak tu dan Ramadhan dah dekat ni…’.

Sekarang ini, dari aspek fizikal pula, walaupun banyak perkembangan-perkembangan yang luar biasa tetapi masih jauh perjalanannya khususnya masalah-masalah teknikal ketika sesuatu perjalanan tu jauh. Kekerapan buang air kecil, jari-jari di kedua belah kaki dan tangan masih ‘numb’ dan sakit, pinggang ke bawah terutamanya kedua belah lutut masih sakit dan lemah, sering rasa berpusing dan pening yang berkemungkinan disebabkan oksigen dan darah yang sampai tu tak mencukupi, tidak mampu berdiri mahu pun duduk lama apatah lagi berjalan jauh dan masih tidak dapat melakukan sujud ketika solat. Apabila anakanda Azzat diberitahu akan keinginan ini, dia terus memberi respon yang kalau mama nak pergi, mama tak boleh pergi sorang-sorang..walaupun makcik dan anak-anak dia ada tapi mana sama keluarga sendiri…mama tu kadang-kadang nak pakai setokin pun kena orang tolong..lagilah bila nak tawaf dan saie..ni pergi umrah ma….’ dan panjang lagi leterannya. Mak Ha diam dan mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan itu benar belaka. Mak Ha memberi respon, ‘…mama tak tau nak respon apa...tu la yang mama kata yang mama memang tak nampak jalan pun nak pergi terutama kewangan dan kesihatan fizikal..tapi teruja betul terutamanya bila membaca ‘andainya ini Ramadhan terakhir…entah la…yang pastinya mama teruja nak pergi dan mama hanya boleh menyatakan pada Azzat yang biar lah Allah yang memelihara dan menjaga mama..tahu la Allah nak menjaga, mengatur dan meyusun yang terbaik untuk hamba-hambaNya. Kalau ianya baik buat mama, sesuai waktunya dan mama pilihan Allah untuk manjadi tetamuNya Ramadhan ni, tentu mudah dan ada jalannya…’. Terdiam Azzat dan termenung panjang, akur dengan penjelasan tersebut.

Pagi Selasa atau Rabu sms pak Din, ‘…abang izinkan tak kalau nak pergi umrah akhir Ramadhan tahun ni…?’ Beberapa hari tu dah pun bertanya tapi pak Din diam nampaknya seperti berfikir panjang. Dua kali sms barulah pak Din membalas dengan panjang lebar walaupun hanya meminta izin darinya..antara isi isms tu ‘..x tau nak jawab apa sebab abang belum ada duit yang cukup untuk hantar p umrah dan….’.Mak Ha balas sms tu ‘….Cuma minta keizinan abang je tapi panjang lebar jawapannya…hehe..relak-relak dan tenang-tenang bang..keinginan nak pergi tu kuat tapi memang belum nampak pun jalannya terutama kewangan dan kesihatan…..’.

Jumaat tengah hari ketika di Flamingo, muncul keinginan yang semakin kuat untuk pergi umrah Ramadhan. Sambil berESQ training, sempat melakukan goal praying dan ‘affirmation’ mengerjakan umrah Ramadhan..lagi lah kuat keinginan tu bila melihat phamplet malam renungan ESQ bertajuk “Andainya ini Ramadhan terakhir…’. Rasa sayu dan terharu dengan tajuknya sambil tersenyum-senyum datangnya perasaan yang positif dengan bisikan…’bestnya andainya aku akhiri Ramadhan tahun ini di depan rumahMU sambil menggambarkan aku sedang bertawaf mengelilingi Kaabah bersama para malaikat…apatah lagi kalau andainya ini Ramadhan yang terakhir buatku…’. Pak Ary lak baru je melakukan aksi helang terbang bebas seperti hati yang terbang bebas dan merdeka naik ke atas bertawaf sambil berzikir mengelilingi cakerawala….Subhanallah…itulah di antara sebab mak Ha tetap meneruskan ‘recharge’ ESQ training walau pun media sibuk dengan isu pengharaman ESQ. Perjalanan spiritual yang sangat bermakna dan sukar untuk dikongsikan bersama yang lain.  Mak Ha terus menghubungi sahabat baik mak Ha tu dan menyatakan keinginan untuk pergi bersama dia dan keluarganya. Masa dah terlalu singkat, hanya seminggu lagi Ramadhan tiba dan ini bermakna pada bila-bila masa permohonan visa akan ditutup. Mak Ha bertanya.’..agaknya ada ruang lagi tak untuk saya join umrah dengan awak…?.’ Tergelak sahabat mak Ha dan dicampur dengan perasaan cemas menyatakan yang masa dah terlalu singkat dan grup mereka dah penuh malah dah selesai pun urusan-urusan yang perlu dilakukan. Mak Ha hanya pasrah menerimanya.

Pagi Sabtu sebelum ke ESQ training, dia telefon dan minta mak Ha hantar pasport antarabangsa secepat mungkin pagi ini juga…’Ha, kalau awak betul-betul nak pergi, kena hantar pasport dan gambar pagi ni juga..bilik memang tak ada, dah penuh. Ni pun Husin kesian kat awak dan hanya sorang je lagi boleh ikut, itu pun kena share katil dengan orang lain…’. Terdiam dan tergamam, macamana nak buat keputusan dalam waktu yang sangat singkat. Hati terus berbicara dan fikiran terus mencelah. Akhirnya mak Ha mencari passport dan masukkan ke dalam beg tangan. Fikiran mengatakan, ‘apa-apa pun hantar dulu passport, keputusan nak pergi atau tidak dan bagaimana nak atasi kekangan-kekangan serta hambatan-hambatan yang ada tu kemudian…’. Sejam dua selepas tu dia telefon semula dengan gelak ketawanya…’betul-betul la ko ni…kelam kabut saya dan Husin dibuatnya…selesai dah urusan visa dan tiket ko…dah boleh packing barang..’. Terdiam mendengar khabar tersebut walaupun sempat melahirkan Alhamdulillah, terima kasih ya Allah..Masih teringat kata-katanya petang semalam yang agak sukar untuk dapat visa lagi dalam waktu begini. Katanya lagi, proses visa  untuk Ramadhan ni, seperti permohonan visa di musim haji yang memerlukan kelulusan Arab Saudi terlebih dahulu sebelum boleh membuat permohonan visa di sini…banyak prosedur dan lama prosesnya.

Terima kasih ya Rabb…nanti kita sambung ok..dah lewat sangat untuk bersiap ke ESQ training…lakukanlah goal praying dengan penuh keyakinan dan pengharapan hanya pada DIA.
Asyik dengan penyampaian demi penyampaian Pak Ary dan Pak Iman di ESQ training, sambil tersenyum-senyum melakukan goal praying umrah akhir Ramadhan tanpa membuat keputusan dan mencari solusi terhadap kekangan-kekangan yang ada. Perjalanan spiritual yang luar biasa sewaktu penyampaian Pak Ary malam renungan “Andainya ini Ramadhan terakhir…’ dan bila masuk kereta untuk pulang ke rumah malam tu bersama Maya, mak Ogy, Zarif, pakcik Sepul dan Azzat, mak Ha terus menyatakan..’ geram tu dengan Pak Ary..Allah beri dia pakej yang cukup menjadi seorang trainer yang hebat dan luar biasa…especially rumusan Ramadhan ddengan ESQ 165 yang sangat padat, ringkas, tersusun dan mmenarik…tu kalau duk depan Pak Ary sepuluh kali pun, belum tentu dalam sampaikan pada orang lain seperti yang Pak Ary sampaikan…’. Begitulah setiap kali selepas mendengar penyampaian ESQ terutamanya Pak Ary.

Balik dari ESQ petang Ahad, keletihan dan berehat sambil meneruskan ‘affirmation’ yang sedang dilakukan. Sepanjang pagi Isnin, berkejar ke sana sini di pejabat menyiapkan kerja-kerja yang banyak yang perlu diselesaikan hari tu juga. Sering mengingatkan diri agar lakukannya dengan hati yang positif dan sering ingatkan bahawa itulah zikir dan tasbihku pada DIA. Sesekali tersenyum riang kerana banyak perkara ‘miracle’ berlaku terutama kerja-kerja yang banyak menjadi mudah. Pagi tu bila nak pergi kerja teringat dengan kurma beberapa kotak di atas meja di ruang tamu. Hati berbisik ‘..mmm, lupa lak dengan kurma ni..’ dan sambil turun lif dan menuju ke kereta, sempat visualisasikan sambil tersenyum hari ni kurma mariami  terjual dua kilo, kurma ajwa sekilo dan kurma zam-zam terjual beberapa kotak kecil. Teringat respon Azzat bila dia dengar bercadang nak jual kurma, ‘..mama jangan kata nak jual kurma pulak….’. Sambil tersengih-sengih, mak Ha membalas responnya, ‘..suka-suka dan terasa teruja betul bila tengok banyaknya kurma kat show room che Mat…kebetulan tengah hari tu sampai di tempat che Mat, kurma satu lori pun tiba...lagi pun mama memang mencari-cari sesuatu yang memberi momentum dan mengaktifkan aliran energi positif yang dah berbulan-bulan berehat ni…bukan nak berniaga sangat pun..’.
Antara yang lucunya, tetiba pagi tu seorang kawan pejabat meminta sekilo kurma mariami…tersenyum sendiri mengingatkan goal praying kurma sebelum pergi kerja pagi tadi.

Seorang kawan menelefon setibanya di rumah  selepas kerja, ‘..kak Ha, boleh ke kalau kalau saya nak kurma zam-zam seratus dua puluh kotak kecil dan kurma mariami enam kilo (satu kotak besar)…’. Mak Ha hanya mampu tersenyum dan menyatakan Alhamdulillah, terima kasih ya Allah…dan terus berbicara dengan hati, ‘…agaknya inilah pesanan Allah padaku..norihah, tugas  ko meminta padaKu dan  ko izinkanlah ianya berlaku…dan yang lain-lain tu tugas Aku. Aku lah yang maha Pemberi Rezeki, maha Mengatur dan maha Mendengar. Aku akan memberi pada yang meminta padaKu pada waktu yang tepat dan sesuai dengan hamba-hambaKu…’. Malam tadi seorang kawan rapat datang ke rumah, ambil kurma ajwa sekilo dan kurma mariami setengah kilo lagi. Keletihan tertidur selepas itu tapi sempat mengucapkan ‘Alhamdulillah, terima kasih ya Allah…I’m getting better and better physically, spiritually, mentally and emotionally’.

Terselit pula cerita tentang kurma (selingan)….Setiba sahaja di rumah, terus bercerita dan menyatakan pada Azzat, ‘…gembiranya mama hari ini..’ dan terus sharing tentang banyak hal-hal ‘miracle’ berlaku kat pejabat hari ini termasuklah hal kurma tadi. Mak teruskan sharing, ‘tapikan ada satu lagi kegembiraan yang tak terjangkau dek fikiran hari ni…tadi sebelum balik teringat tentang umrah Ramadhan dan sambil membelek borang permohonan bercuti ke luar negara sambil bercadang untuk menelefon sahabat baik yang menguruskan umrah tersebut. Belum sempat lagi untuk bersembang panjang dengannya tentang proses visa dan sebagainya. Tetiba handphone berbunyi dan sahabat baik mak Ha menelefon..menjawab telefon sambil tersenyum…sahabat mak Ha terus menyampaikan berita gembira dengan penuh perasan, ‘Ha, saya dah settlekan semua bayaran ko pergi umrah tu…ko diam-diam…’. Mak Ha sempat bertanya’ ‘agaknya berapalah saya kena bayar dengan awak tu..’. Dia menjawab,’kan saya dah kata..saya dah settlekan semuanya..ko tinggal siap-siap dan bawa badan yang sihat…buat umrah betul-betul dan berdoa banyak-banyak..ko jangan lupa doakan saya…nanti ko kena ajar saya macamana ko buat goal praying tu…kalau ko nak tau, saya baru je dapat duit RM50k tadi…hehe..’. Itu lah di antara kata-katanya dan mak Ha sekali lagi hanya mampu mengucapkan Alhamdulillah, terima kasih ya Allah….’ Dan mak Ha mengucapkan padanya,’..saya hanya mampu mendoakan awak ,husin dan keluarga terus diberi rezeki dan kebahagiaan yang melimpah ruah…’. Dia memberi respon lagi,’Ha, cukuplah ko mendoakan aku sentiasa diberi rezeki yang cukup untuk mengerjakan umrah dan haji setiap tahun bersama anak-anak dan lain-lain’.  Dia mengakhiri sembang kami dengan ' so insyaAllah kita akan p pada Jumaat 19 Ogos  jam 3 petang dari KLIA ke Jeddah pernerbangan SV833 dan balik pada 2 September 2011 (birthday siapa agaknya…) jam 1 tengah hari pernerbangan SV828 dari Madinah...dah...x yah fikir banyak-banyak lagi, siap-siapkan diri untuk pergi ke sana'.  Rasa tidak sabar hendak berkongsi kegembiraan ini dengan pak Din, Azzat, tok yah dan tok Tan. Bila agaknya dapat jumpa dan bagitahu pak Din berita gembira ini. Jauh di sudut hati, bestnya kalau dapat pergi dengan pak Din, Azzat, mcik Zah, kakak, adik, mak Ija, ayah Me dan makcik Net sekali. Antara respon Azzat yang paling best sekali, “dah tu Azzat puasa dan raya sorang-sorang la ??? Sedap je mama…’.

InsyaAllah kita sambung lagi…nak pergi IJN dan pejabat…berminat nak tahu macamana langkah-langkah yang perlu untuk melakukan goal praying ? Doakan agar mak Ha diberi kekuatan dan kelapangan untuk berkongsi dengan korang semua.

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails

terima kasih dariku...

Tajuk-tajuk saya

Menyentuh Hati-Peristiwa Almarhum Ustaz Fadhil Noor

Syuhada Chechen. Mereka telah memilih Syahid.