Baitullah : Rindu yang tak pernah padam

Baitullah : Rindu yang tak pernah padam
Baitullah : Rindu yang tak akan padam hingga ke akhirku...
Showing posts with label ilmu. Show all posts
Showing posts with label ilmu. Show all posts

Sunday, March 11, 2012

Kekuasaan Allah Pada Penciptaan Laut

Two Seas in Quran


Al Furqan : 53
" Dan Dialah yang membatasi dua lautan; manis dan tawar, dan yang masin dan pahit. Tuhan mengadakan antara keduanya dinding dan batas yang tak boleh dilalui." 
Ar Rahman : 19-20
" DibiarkanNya mengalir kedua lautan itu, bertemu satu sama lain. Antara keduanya ada batas yang tidak melampaui."

Sains moden menganggapnya mitos manakala AlQuran telah menjelaskannya lebih daripada 1400 tahun yang lalu. Bagi orang Islam, fenomena dua jenis air lautan yang tidak bercampur ini bukanlah aneh kerana ianya ialah tanda-tanda kekuasaan Allah dalam penciptaanNya hanya melalui kalimah "kun fayakun". Ini bukanlah bermakna orang Islam tidak perlu mengkaji secara saintifik tentang fenomena alam semulajadi seperti kejadian dua jenis laut ini malah orang Islam amat dituntut membuat kajian ilmiah dan hikmah setiap kejadian Allah.

Banyak tanda-tanda kekuasaan Allah dalam bentuk fenomena alam semulajadi kelihatan aneh di mata manusia, dapat mencetuskan kajian sains supaya dapat dimanfaatkan dalam kehidupan manusia. Seperti  fenomena dua laut ini, ahli sains mendapati dua jenis air laut yang mempunyai batas ini mempunyai suhu, darjah kemasinan dan kepadatan yang berbeza. Fenomena ini berlaku di beberapa tempat termasuk adanya pembahagi antara air laut Mediterranean dan air lautan Atlantik di Gibraltar. Satu jaluran putih kelihatan jelas di Cape Point, Semenanjung Cape, Afrika Selatan dimana Lautan Atlantik bertemu Lautan Hindi. 

Tetapi bila Al Quran menyebut tentang pertemuan air tawar dan air masin , ia menyebut tentang 'dinding yang tak boleh dilalui'. Fenomena ini terjadi di beberapa tempat di Mesir dimana air sungai Nil mengalir masuk ke laut Mediterranean dan ini diakui sendiri oleh Pakar Marine dan Profesor Sains Geologi, Dr William Hay dari University of Colorado, USA. Subhanallah.






Sunday, February 19, 2012

Hukum Memberi Salam Antara Lelaki Wanita


Oleh: Badrul Tamam
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya.
Dalam pergaulan antara sesama muslim ada adab dan hak-hak yang wajib untuk dijaga. Seorang muslim harus melazimi dan menunaikan adab dan hak tersebut kepada saudara muslimnya yang lain. Dalam menunaikannya harus disertai kayakinan bahwa itu bagian dari ibadah kepada Allah Ta’ala. Karena Allah telah memerintahkan hak-hak dan adab tersebut kepada seorang muslim untuk dipraktekkan terhadap saudara muslimnya, maka melaksanakannya termasuk bagian dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Di antara hak-hak dan adab tersebut adalah mengucapkan salam kepada saudara muslim. Mengucapkan salam ini disyariatkan saat bertemu dan berpisah, saat hadir dalam majelis dan saat meninggalkannya, serta beberapa kondisi lainnya.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَجْلِسِ فَلْيُسَلِّمْ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ فَلْيُسَلِّمْ فَلَيْسَتْ الْأُولَى بِأَحَقَّ مِنْ الْآخِرَةِ
Apabila salah seorang kalian sampai di suatu majlis hendaklah memberikan salam. Dan apabila hendak keluar, hendaklah memberikan salam. Dan tidaklah (salam) yang pertama lebih berhak daripada (salam) yang kedua.” (HR. Abu Daud dan al-Tirmidzi serta yang lainnya dan Syaikh Al-Albani mengatakan: Hasan shahih).” Maknanya, kedua-duanya adalah benar dan sunnah.
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'Anhu berkata, aku mendengar Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ : إذَا لَقِيته فَسَلِّمْ عَلَيْهِ ، وَإِذَا دَعَاك فَأَجِبْهُ
Hak muslim atas muslim lainnya ada enam: apabila engkau bertemu dengannya maka ucapkan salam, apabila dia mengundangmu maka penuhilah undangannya, . . . .” (HR. Muslim)

Salam Laki-laki Kepada Kaum Wanita dan Sebaliknya
Anjuran untuk mengucapkan salam kepada sesama muslim tidak berlaku bagi sesama jenis saja, tapi juga kepada lawan jenis. Karena syariat Islam ditujukan kepada kaum wanita dan laki-laki, kecuali ada dalil yang menghususkannya bagi kenis kelamin tertentu. Hanya saja dalam mengucapkan salam kepada lawan jenis harus terpenuhi syaratnya, yaitu aman dari fitnah. Karenanya, jika ditakutkan akan menimbulkan fitnah maka tidak dianjurkan.
Al-Hafidz Ibnul Hajar dalam Fathul Baari mengomentari babTaslim al-Rijal ‘alaal-Nisa’ wa al-Nisa’ ‘ala al-Rijal (Bab salamnya kaum lelaki kepada kaum perempuan dan kaum perempuan kepada kaum lelaki), bahwa Imam al-Bukhari seolah mengisyaratkan dalam bab ini membantah riwayat maqthu’ (berhenti pada tabi’in) dan mu’dhal (salah satu jenis hadits dha'if) yang dikeluarkan oleh Abdurrazaq dari Ma’mar, dari Yahya bin Abi Katsir yang berisi makruhnya kaum lelaki mengucapkan salam kepada kaum wanita dan sebaliknya. Kemudian Ibnul Hajar menjelaskan bahwa maksud dari bolehnya ini (kaum lelaki mengucapkan salam kepada kaum wanita dan sebaliknya) ketika aman dari fitnah.
Ibnul Hajar rahimahullah juga menukil ucapan Ibnu Bathal dari al-Muhallab, “Salamnya kaum lelaki kepada kaum perempuan dan kaum perempuan kepada kaum lelaki boleh, apabila aman dari fitnah.”
Bahkan kalau dalam majlis berkumpul kaum laki-laki dan wanita maka boleh mengucapkan salam dari dua sisi, demikian yang terdapat dalam Fathul Baari.
Maka siapa yang yakin dirinya aman dari fitnah, lebih baik dia mengucapkan salam. Sebaliknya, siapa yang takut akan menimbulkan fitnah, maka diam itu yang lebih baik dan lebih selamat (dari ucapan al-Halimi dalam Fathul Baari).
Berikut ini kamu sebutkan beberapa dalil yang menunjukkan bolehnya mengucapkan salam laki-laki terhadap wanita dan sebaliknya, selama aman dari fitnah:
A. Salam Laki-laki Kepada Kaum Wanita

Dalil pertama: Dari Abu Hazim, dari Sahal berkata:
قَالَ كُنَّا نَفْرَحُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ قُلْتُ وَلِمَ قَالَ كَانَتْ لَنَا عَجُوزٌ تُرْسِلُ إِلَى بُضَاعَةَ قَالَ ابْنُ مَسْلَمَةَ نَخْلٍ بِالْمَدِينَةِ فَتَأْخُذُ مِنْ أُصُولِ السِّلْقِ فَتَطْرَحُهُ فِي قِدْرٍ وَتُكَرْكِرُ حَبَّاتٍ مِنْ شَعِيرٍ فَإِذَا صَلَّيْنَا الْجُمُعَةَ انْصَرَفْنَا وَنُسَلِّمُ عَلَيْهَا فَتُقَدِّمُهُ إِلَيْنَا فَنَفْرَحُ مِنْ أَجْلِهِ وَمَا كُنَّا نَقِيلُ وَلَا نَتَغَدَّى إِلَّا بَعْدَ الْجُمُعَةِ
Kami sangat gembira bila tiba hari Jum’at.” Saya (Abu Hazim) bertanya kepada Sahal: “Mengapa demikian?” Jawabnya:  “Ada seorang nenek tua yang pergi ke budha’ah -sebuah kebun di Madinah- untuk mengambil ubi dan memasaknya di sebuah periuk dan juga membuat adonan dari biji gandum. Apabila kami selesai shalat Jum’at, kami pergi dan mengucapkan salam padanya lalu dia akan menyuguhkan (makanan tersebut) untuk kami. Itulah sebabnya kami sangat gembira. Tidaklah kami tidur siang dan makan siang kecuali setelah jumat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalil kedua: Dari ‘Aisyah Radhiyallahu 'Anha berkata, RasulullahShallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda;
يَا عَائِشَةُ هَذَا جِبْرِيلُ يَقْرَأُ عَلَيْكِ السَّلَامَ قَالَتْ قُلْتُ وَعَلَيْهِ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ تَرَى مَا لَا نَرَى
Wahai Aisyah, ini adalah Jibril menyampaikan salam kepadamu.” Aisyah menjawab, “Aku mengatakan: Wa’alaihis Salam Warahmatullah. Engkau (Rasulullah) melihat apa yang tidak aku lihat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maknanya bukan berarti malaikat adalah laki-laki, tetapi Allah menyebutkannya dengan laki-laki hanya sebagai sebutan. Dan dijadikannya hadits ini sebagai dalil bolehnya seorang laki-laki mengucapkan salam kepada kaum wanita karena saat itu Jibril datang kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam bentuk seorang laki-laki.

Dalil ketiga:
أَسْمَاءُ بِنْتُ يَزِيدَ قَالَتْ مَرَّ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نِسْوَةٍ فَسَلَّمَ عَلَيْنَا
“Dari Asma’ binti Yazid al-Anshariyah radhiyallahu 'anha, berkata: ‘Pernah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melewati kami, kaum wanita lalu beliau mengucapkan salam kepada kami.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Darimi dan Ahmad. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah no. 3701)

Dalil keempat: Dari hadits Kuraib, maula Ibni Abbas menceritakan, bahwa Abdullah bin Abbas, Abdur Rahman bin Azhar dan Miswar bin Makhramah pernah mengutusnya kepada Aisyah, istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Mereka berkata,
اقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنَّا جَمِيعًا وَسَلْهَا عَنْ الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْرِ
Sampaikan salam dari kami semua kepadanya, dan tanyakan tentang dua rakaat sesudah shalat ‘Ashar.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  • Jadi sangat jelas dari keempat dalil yang disebutkan bahwa dibolehkan kaum lelaki mengucapkan salam kepada kaum wanita.
B. Salam Wanita Kepada Laki-laki

Dalil pertama: Dari Abu Murrah, maula Ummi Hani’ binti Abu Thalib mengabarkan bahwa ia pernah mendengar Ummi Hani’ mengatakan,
ذَهَبْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفَتْحِ فَوَجَدْتُهُ يَغْتَسِلُ وَفَاطِمَةُ ابْنَتُهُ تَسْتُرُهُ بِثَوْبٍ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَقَالَ مَنْ هَذِهِ فَقُلْتُ أَنَا أُمُّ هَانِئٍ بِنْتُ أَبِي طَالِبٍ فَقَالَ مَرْحَبًا بِأُمِّ هَانِئٍ
“Aku pernah datang menemui Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallamsaat Fathu Makkah, aku mendapatinya sedang mandi sedangkan Fatimah putri beliau menutupinya dengan kain. Lalu aku mengucapkan salam kepada beliau. Beliau bersabda: “Siapa di situ?” Aku menjawab, “Ummu Hani' anak perempuan Abu Thalib.” Beliau menyahut, “Selamat datang wahai Ummu Hani'!” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ummu Hani’ merupakan saudara sepupu Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, dan bukan bagian dari mahram beliau. Dia mengucapkan salam kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallamdan beliau tidak mengingkarinya, yang berarti menyetujuinya yang menunjukkan bolehnya tindakan tersebut. Wallahu a’lam.

Dalil Kedua: Dari al-Hasan al-Bashri berkata,
كُنَّ النِّسَاءُ يُسَلِّمْنَ عَلَى الرِّجَالِ
Zaman dahulu (yakni zaman sahabat), para wanita mengucapkan salam kepada kaum laki-laki.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad dengan sanad hasan)
Dari kedua dalil di atas sangat jelas menunjukkan bahwa kaum wanita mengucapkan salam kepada kaum laki-laki telah ada dan terjadi pada zaman Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan para sahabat. Karenanya, berdasarkan keumumannya dibolehkan. Namun disyaratkan aman dari fitnah dan tidak menimbulkan kerusakan. Karena syariat datang untuk mewujudkan mashalih (kebaikan) bagi umat manusia dan menghilangkan segala kemudharatan.
Berdasarkan dari dalil-dalil di atas sangat jelas bahwa mengucapkan salam kepada lawan jenis tidak apa-apa, dibolehkan. Dengan syarat aman dari fitnah.
Kesimpulan
Berdasarkan dari dalil-dalil di atas, mengucapkan salam kepada lawan jenis tidak apa-apa, dibolehkan. Dengan syarat aman dari fitnah. Karena syariat datang untuk mewujudkan mashlahat dan menghilangkan mudharat. Oleh sebab itu ada sebagian ulama, seperti Madzab Malikiyah membedakan antara salam kepada wanita tua dan yang masih muda. Kalau kepada yang sudah tua dibolehkan karena tidak akan menimbulkan fitnah, dan kepada yang masih muda melarangnya sebagai tindakan prefentif terhadap fitnah.
Al-Mutawalli –sebagaimana yang dinukil oleh Ibnul Hajar dalam syarah hadits salam Jibril kepada 'Aisyah di atas- menukilkan jika wanitanya cantik sehingga dikhawatirkan timbul fitnah darinya maka tidak disyariatkan mengucapkan salam, baik untuk memulai atau menjawab. Kalau salah seorang dari laki-laki atau wanita seperti itu mengucapkan salam, maka yang lain tidak dianjurkan menjawabnya. Jika wanitanya sudah tua dan diperkirakan tidak menimbulkan fitnah maka dibolehkan. Begitu juga jika berkumpul kaum laki-laki dan wanita dalam satu majlis maka dibolehkan untuk mengucapkan salam dari salah satu kelompok selama aman dari fitnah. Yang pada intinya harus tetap memperhatikan kaidah fiqih,
دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ مِنْ جَلْبِ الْمَصَالِحِ
"Membendung kerusakan lebih utama daripada mendapatkan kemaslahatan." (Lihat Shahih Adab Mufrad hal.398-399 karya Al-Albani). Wallahu Ta’ala a’lam. [PurWD/voa-islam.com]

Saturday, February 4, 2012

Allahumma Solli 'Ala Muhammad : Salam Maulidur Rasul


Assalamualaikum. Allahumma solli 'ala Muhammad wa 'ala aali wasohbihi wa sallim.
"Sesungguhnya Allah dan MalaikatNya bersalawat (memberi segala penghormatan dan kebaikan) kepada Nabi (Muhammad S.A.W); wahai orang-orang yang beriman bersalawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam sejahtera dengan penghormatan yang sepenuhnya" (Surah Al Ahzab:56)

Salawat Allah ke atas Nabi Muhammad bukan dengan kata-kata seperti yang kita menyebut dalam ungkapan selawat yang terkenal. Salawat Allah ke atasnya bermaksud Allah Taala sentiasa memberikan kepadanya kebaikan dan kerahmatan daripada hidupnya hingga wafatnya dan sehingga pada hari-hari Baginda hidup dalam alam barzakh hinggalah ke hari kiamat. Inilah yang disebutkan dalam kitab Tafsir Al Qurtubi, juzuk 14, halaman 222 yang bermaksud, "Salawat daripada Allah adalah turunnya rahmat Allah dan keredaanNya kepada Nabi Muhammad sepanjang masa".

Salawat daripada Para Malaikat bermaksud, "Para Malaikat sentiasa berdoa kepada Allah untuk kebaikan dan keampunan Nabi Muhammad S.A.W sepanjang zaman serta meredhainya. Ada pun salawat umat (kita) Muhammad kepada Baginda Nabi S.A.W adalah dengan menyebut salawat yang terkenal itu, yang di dalamnya mengandungi doa kepada Allah, agar Allah menurunkan rahmat dan kesejahteraannya kepada Baginda. Kita juga memohon agar Allah membesarkan dan memuliakan Nabi Muhammad sepanjang masa". 

Dari tiga perbezaan jelas bahawa istilah salawat itu begitu unik. Ia boleh dipakai untuk tiga situasi yang berbeza. Pertama Allah. Kedua, malaikat dan ketiga, umat manusia. Yang penting kita menghayati dan memahami bahawa Rasulullah S.A.W itu makhluk istimewa pilihan Allah, yang Allah sendiri menjanjikan bahawa Allah sentiasa mencurahkan rahmat kepada Baginda, hari hidupnya, ke alam kuburnya sehinggalah ke hari akhirat. Malah Para Malaikat seluruhnya sentiasa memohon kepada Allah agar dilimpahkan rahmat dan keampunanNya kepada Rasulullah S.A.W. Di hujung ayat tersebut, selepas Allah dan malaikat berselawat ke atas Nabi Muhammad, maka Allah menyeru kita, orang-orang beriman supaya mengucapkan selawat dan salam yang makruf. 

Rasulullah S.A.W bersabda (mafhumnya), "Sesiapa yang bersalawat ke atasku satu selawat, maka Allah merahmatinya dengan 10 rahmat".
Oleh kerana itu, ulama dalam memperhalusi persoalan selawat ke atas Nabi Muhammad itu wajib atau sunat, tidak berlaku khilaf (perselisihan) daripada kalangan ulama, bahawa salawat ke atas Nabi Muhammad adalah wajib, sekurang-kurangnya sekali seumur hidup. Dalam hidup seharian, bersalawat adalah sunat muakkad.

Sa'id Ibnu Musayyid meriwayatkan daripada Umar Al Khattab, beliau berkata, "Doa hamba kepada Allah tidak diangkat apabila tidak disebut selawat ke atas Nabi dalam doa itu. Apabila disebut salawat, barulah diangkat doa tersebut. Dan sesiapa yang menulis salawat ke atas Nabi dalam mana-mana penulisan (kitabnya), maka malaikat-malaikat terus bersalawat ke atas Nabi dan selama penulisannya itu kekal, maka selama itulah malaikat-malaikat mendoakan rahmat ke atasnya". Demikian hebatnya salawat ke atas Nabi Muhammad S.A.W. Wallahua'lam.- ust Harun Din Al Hafiz

Tuesday, January 31, 2012

Kobaran Jihad Perang Yamamah

(Arrahmah.com) – Ibnu Katsir membawakan kisah matinya Musailamah Al-Kadzdzab [1] -semoga Allah melaknatnya- pada Perang Yamamah.
Ketika pasukan muslimin dan pasukan Musailamah Al-Kadzdzab berhadap-hadapan, Musailamah berkata kepada pengikutnya, “Hari ini adalah hari kecemburuan. Jika kalian kalah pada hari ini maka isteri-isteri kalian akan menjadi tawanan dan mereka akan menjadi hamba. Oleh karena itu, berperanglah kalian untuk membela kedudukan dan melindungi wanita-wanita kalian.” [2]
Pasukan muslimin terus maju hingga Khalid naik ke tanah yang lebih tinggi dari Yamamah. Kemudian beliau membahagi pasukannya.
Bendera kaum Muhajirin dipegang oleh Salim maula Abu Hudzaifah. Bendera kaum Ansar dipegang oleh Tsabit bin Qais bin Syammas, sedangkan kabilah Arab yang lain menggunakan bendera sendiri.
Kemudian pasukan kaum muslimin dan orang-orang kafir saling bertempur. Terjadilah pertempuran. Pasukan muslimin dari kabilah Arab yang lain dapat dikalahkan. Kemudian para sahabat saling menegur sesama mereka.
Tsabit bin Qais bin Syammas berkata, “Sungguh amat jelek kebiasaan yang kalian berikan kepada rakan kalian.”
Lalu terdengarlah seruan dari segala arah, “Berikanlah jalan keluar kepada kita, wahai Khalid.”
Setelah itu, kelompok Muhajirin dan Ansar masing-masing membentuk kelompok sendiri, juga Al-Barra’ bin Ma’rur. Dahulu, bila ia melihat perang maka ia akan gemetar. Lalu ia akan duduk di atas tunggangannya hingga kencing di seluarnya. Kemudian ia akan menerjang seperti singa.
Adapun Bani Hanifah menjalani pertempuran ini dengan sungguh-sungguh. Kesungguhan yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.
Karena itu, para sahabat saling memberikan wasiat di antara sesama mereka. Para sahabat mengatakan, “Wahai penghafal surat Al-Baqarah, hari ini saatnya pahlawan waktu sahur.”
Tsabit bin Qais membuat lubang untuk menanam kedua kakinya di bumi hingga setengah betis setelah ia menyapu ubat pengawet mayat dan mengenakan kafan, dalam keadaan ia memegang panji kaum Ansar. Ia masih terus bertahan hingga terbunuh di lubang itu.
Kaum Muhajrin mengatakan kepada Salim maula Abu Hudzaifah, “Apakah kamu khawatir kita akan ditimpa kekalahan kerana dirimu?” Lalu Salim mengatakan, “Kalau seperti itu yang terjadi maka akulah sejelek-jelek pembawa Al-Quran.”
Zaid bin Al-Khaththab berkata, “Wahai sekalian kaum muslimin, gigitlah kuat-kuat dengan gigi geraham kalian. Teruslah, tebaskan pedang ke arah musuh-musuhmu! Teruslah maju! Demi Allah, aku tidak akan bicara lagi setelah ini hingga Allah mengalahkan mereka, atau aku berjumpa dengan-Nya, lalu aku akan mengajak-Nya bicara dengan alasan-alasanku.” Kemudian ia gugur sebagai syahid, semoga Allah meridhainya.
Abu Hudzaifah berkata, “Wahai penghafal Al-Quran, hiasilah Al-Quran dengan perbuatan.” Lalu ia terus maju ke tengah pasukan musuh hingga gugur, semoga Allah meredhainya.
Khalid bin Al-Walid terus menyerang hingga melepasi pasukan musuh dan menuju ke arah Musailamah. Ia senantiasa mengintai untuk dapat mencapai Musailamah agar dapat membunuhnya. Kemudian ia berbalik dan berdiri di antara dua pasukan. Dia mencabar musuh dan mengatakan, “Aku adalah putra Al-Walid. Aku adalah putra ‘Amir dan Zaid.”
Kemudian ia mengumandangkan semboyan-semboyan kaum muslimin. Mulalilah ia membunuh setiap pasukan musuh yang berlawan dengannya. Ia juga akan melumat semua musuh yang menghampiri kepadanya. Pasukan muslimin mulai menguasai keadaan. Lalu ia mendekati Musailamah dan menawarkan untuk kembali kepada kebenaran. Akan tetapi, syaitan yang ada pada diri Musailamah terus membisik, sehingga Musailamah tidak mahu menerima tawaran apa pun. Setiap kali Musailamah mencuba melakukan pendekatan, syaitan yang ada padanya selalu  memalingkannya. Setelah itu, Khalid meninggalkan Musailamah.
Sebelumnya, Khalid telah membahagi pasukan Muhajirin dan Ansar. Khalid memisahkan kedua pasukan ini dari pasukan muslimin yang berasal dari kabilah Arab yang lain. Beliau juga memisahkan pasukan berdasarkan keturunannya masing-masing. Sehingga setiap pasukan berperang di bawah bendera komando keturunannya. Dengan cara seperti itu, maka akan segera diketahui dari bahagian pasukan yang mana kekalahan menimpa mereka. Sedangkan para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam masih terus bersabar menghadapi keadaan yang sangat genting ini. Mereka sedang berdepan kobaran perang yang belum pernah dihadapi sebelumnya.
Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa maju menerjang leher-leher musuh, hingga Allah memberikan kemenangan kepada mereka. Orang-orang kafir pun lari tunggang langgang. Namun para sahabat masih terus memerangi sisa pasukan musuh dan menebaskan pedang ke leher-leher mereka. Para sahabat berhasil mendesak pasukan Musailamah di kebun kematian. Hakim Yamamah, yaitu Muhkam bin Ath-Thufail -semoga Allah melaknatnya- telah memberikan isyarat agar pasukan Musailamah memasukinya.
Lalu pasukan Musailamah masuk ke kebun kematian, dan di dalamnya ada musuh Allah, Musailamah. Abdurrahman bin Abu Bakar berjaya mendekati Ath-Thufail dan memanahnya sampai mengenai leher Muhkam dalam keadaan ia sedang berceramah. Abdurrahman berjaya membunuh Muhkam.
Orang-orang Bani Hanifah menutup pintu kebun, namun para sahabat terus mengepung mereka.
Al-Barra’ bin Malik mengatakan, “Wahai pasukan muslimin, lemparkan aku ke arah pasukan musuh di dalam kebun.”
Kemudian, pasukan muslimin menempatkannya di atas perisai, dan mengangkatnya dengan tombak hingga dapat melemparkannya ke arah pasukan musuh melintasi pagar. Al-Barra’ senantiasa memerangi pasukan Musailamah yang berada di dekat pintu, hingga Al-Barra’ berjaya membuka pintu tersebut. Kemudian pasukan kaum muslimin masuk ke dalam kebun, baik melalui atas pagar maupun memecah masuk pintu-pintunya.
Pasukan muslimin terus memerangi orang-orang murtad yang ada di dalam kebun dari kalangan penduduk Yamamah. Kemudian pasukan Islam berjaya menuju ke arah Musailamah -semoga Allah terus melaknatnya-. Ketika itu, ia sedang berdiri di atas pagar yang retak seakan ia adalah unta yang berwarna abu-abu.
Musailamah ingin bersandar karena ia tidak dapat menahan marah. Apabila syaitan dalam diri Musailamah meninggalkannya, keluar buih dari pelipisnya. Lalu Wahsyi bin Harb,maula Jubair bin Muth’im, mendekati Musailamah dan melemparnya dengan tombak kecil. Tombak itu tepat mengenai Musailamah dan tembus pada sisi tubuh yang lain. Abu Dujanah Simak bin Khirasyah bersegera menuju Musailamah dan menebaskan pedang. Musailamah akhirnya tersungkur tewas.
Seorang perempuan berteriak dari arah gedung, “Pimpinan Wadha`ah telah dibunuh oleh seorang budak hitam.”
Jumlah pasukan kafir yang dibunuh di dalam kebun dan di medan perang mendekati angka 10,000 nyawa, dan ada yang mengatakan 21,000. Sedangkan jumlah pasukan Islam yang syahid berjumlah 600 orang, dan ada yang mengatakan 500 orang. Wallahu a’lam.
***
Disadur dari sebuah buku terjemahan yang berjudul “Kisah Kepahlawanan Para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum”, seri 2, cetakan pertama (Jumadil Akhir 1429 H/Juli 2008 M), penerbit: Hikmah Anak Sholih (HAS), Yogyakarta.
***
Catatan kaki :
[1] “Al-Kadzdzab” artinya pembohong besar (pendusta). Musailamah diberi gelar “Al-Kadzdzab” karena sepeninggalan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Musailamah mengaku sebagai seorang nabi. Padahal telah terdapat dalil-dalil sahih yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para nabi, tidak ada lagi nabi setelah beliau.
- Firman Allah Ta’ala,
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapidia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.” (QS. Al-Ahzab [33]: 40)
- Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya, “Aku adalah penutup para Nabi dan tidak ada Nabi lagi sesudahku.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad, dengan sanad shahih menurut Muslim)
[2] Ucapan penyemangat ini menunjukkan cita-cita Musailamah yang rendah dan hina, karena di dalamnya dia menyemangati pasukannya untuk berperang bukan untuk Allah tetapi untuk dunia, sebagaimana pada akhir ucapan Musailamah ini, “Oleh karena itu, berperanglah kalian untuk membela kedudukan dan melindungi wanita-wanita kalian.” Adapun kaum muslimin berperang untuk Allah, di jalan Allah, dan dengan pertolongan Allah lah kaum muslimin memperoleh kemenangan.

Sunday, January 22, 2012

Pendusta Yang Menyampaikan Kebenaran

Tugas sebagai petugas ronda menjaga kumpulan zakat yang sudah dibayarkan kaum Muslimin sebelum dibahagikan kepada para mustahiq diserahkan kepada Abu Hurairah ra. Tugas mulia itu Abu Hurairah terima dengan penuh semangat, tidak ada tawar-menawar apalagi penolakan. Seperti tak kenal lelah Abu Hurairah mengawasi setiap sudut tumpukan makanan itu. Hingga larut malam ia tetap berjaga. 
Dalam keheningan malam itu, Abu Hurairah diserang rasa ngantuk yang tak tertahankan. Antara sedar berjaga dan rasa mengantuk itulah Abu Hurairah dikejutkan oleh suara seseorang yang mendekati tumpukan makanan itu. Dengan hati-hati Abu Hurairah memastikan mengamati orang itu. Dan dengan pantas Abu Hurairah berhasil menangkapnya. “Siapa kamu?” tanya Abu Hurairah menyiasat. “Saya orang miskin, punya banyak anak dan tanggungan, kasihani kami, Tuan”. Pencuri itu menghiba untuk dimaafkan dan dilepaskan. Mendengar permintaan maaf pencuri yang menghiba itu, Abu Hurairah melepaskannya, setelah berjanji bahwa ia tidak akan mencuri lagi. 
Keesokan harinya Rasulullah saw menelitii tugas yang diberikan kepada Abu Hurairah itu. “Apa yang engkau alami semalam?” tanya Nabi kepada Abu Hurairah. Dan Abu Hurairah menceritakan pengalamannya menangkap pencuri, tetapi pencuri itu menghiba meminta belas kasihan karena memiliki banyak anak, maka Abu Hurairah melepaskannya. Rasulullah saw menegaskan: “Pasti nanti malam ia akan datang kembali”. Rasulullah saw berpesan kepada Abu Hurairah agar berjaga dengan baik pada malam kedua. 
 Malam kedua Abu Hurairah kembali berjaga. Seperti malam sebelumnya, ia mengamati setiap sudut tumpukan makanan itu berada. Tetapi rasa mengantuk tidak mampu di lawan ketika larut malam datang. Dan ketika Abu Hurairah mengantuk itulah pencuri itu datang kembali, hendak mengambil makanan zakat itu. Naluri Abu Hurairah yang segera terjaga dan menangkap kembali pencuri itu dan mengancam akan membawanya ke hadapan Rasulullah saw.  
 Seperti malam sebelumnya, pencuri itupun menghiba meminta belas kasihan kepada Abu Hurairah. Ia mengeluhkan dirinya yang miskin dan memiliki banyak tanggungan, meminta jangan ditangkap dan dilepaskan saja. Karena memang tertangkap dan tidak ada barang yang dicuri, maka Abu Hurairah kembali terketuk hatinya dan membebaskan pencuri itu. 
 Keesokan harinya Rasulullah saw kembali bertanyakan pekerjaan Abu Hurairah. ‘’Apa kejadian yang kamu alami tadi malam?’’ tanya Rasulullah. Abu Hurairah menceritakan pengalamannya malam itu. Seperti yang telah Rasulullah nyatakan hari kemarin. Pencuri itu kembali datang. Dan ketika ditangkap pencuri itupun kembali menghiba, meminta belas kasihan karena dia orang miskin dan memiliki banyak tanggungan, dan Abu Hurairah pun melepaskannya. 
 Begitulah Rasulullah saw mengikuti perkembangan tugas yang telah diamanahkannya kepada salah seorang sahabatnya. Penugasan dan keprihatinan adalah cara kerja yang telah Rasulullah saw sejak dahulu kala. Rasulullah saw kembali mengingatkan kepada Abu Hurairah bahawa pencuri itu pasti akan datang lagi. Sikap Abu Hurairah yang tidak kejam dan banyak berbelas kasihan itu tentu tidak manakutkan bagi pencuri. Penjaga yang baik hati dan mudah memaafkan. 
 Malam ketiga kembali Abu Hurairah ronda, menjaga tumpukan makanan zakat yang telah terkumupul itu. Setiap sudut diawasinya dengan seksama. Larut malam menjelang rasa mengantuk kembali menyerang. Dalam keadaan mengantuk itulah kembali pencuri itu datang hendak mengambil makanan zakat itu, dan dengan pantas Abu Hurairah bangun tejaga. ‘’Kamu lagi, datang lagi, mencuri lagi, kali tidak akan aku lepaskan, akan aku bawa kamu menghadap Rasulullah saw,’’  kata Abu Hurairah kepada pencuri itu.
Kembali pencuri menghiba meminta belas kasihan agar dilepaskan dan tidak dibawa menghadap Rasulullah. Karena sudah yang ketiga kali, Abu Hurairah tidak mengabulkan permohonan itu. Ia tahan pencuri itu, untuk dibawa menghadap Rasulullah esok hari. Menunggu fajar tiba terjadilah perbincangan antara Abu Hurairah dan pencuri itu.Pribadi Abu Hurairah yang menyukai ilmu pengetahuan terkuak oleh pencuri itu, sehingga pencuri itu menyampaikan pelajaran kepada Abu Hurairah, ‘’Jika ingin bisa tidur tanpa ada gangguan syaitan maka bacalah ayat kursi Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Maha Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya‘’
Pelajaran ternyata dapat melunakkan hati Abu Hurairah, dan kembali Abu Hurairah melepaskan pencuri itu setelah memberikan pelajaran berharga baginya. Keesokan harinya kembali Rasulullah saw bertanyakan pekerjaan Abu Hurairah. ‘’Apa yang terjadi tadi malam?’’  Abu Hurairah menjawab, ‘’Pencuri itu mengajarkan sesuatu yang berguna, maka saya lepaskan ia.’’
Nabi bertanya kepada Abu Hurairah, ”Apa yang telah ia ajarkan kepadamu ?’’ jawab Abu Hurairah, ‘’Ia mengajariku jika kamu ingin tidur maka bacalah ayat kursi, sampai selesai, maka kamu akan senantiasa mendapatkan penjagaan Allah dan tidak akan didekati syaitan hingga pagi’’.Setelah mendapatkan penjelasan dari Abu Hurairah Nabi bersabda: “Ama shadaqaka wahuwa kadzuub(yang ia sampaikan itu benar, padahal ia adalah pendusta), tahukah kamu siapa yang kamu tangkap tiga malam itu, wahai Abu Hurairah?” “Saya tidak tahu,” jawab Abu Hurairah.
Rasulullah mengatakan, “Dia itu syaitan.”Begitulah Rasulullah saw memberikan penilaian objektif terhadap syaitan. Kejujuran syaitan tidak membuat Rasulullah terpedaya lalu menganggapnya sebagai makhluk baik yang telah berubah baik tidak lagi jadi musuh. Tetapi tabiat pendusta dan status musuhnya itu tidak membuat Rasulullah saw menafikan kebenaran yang disampaikannya. Ama shadaqaka wahuwa kadzuub (yang ia sampaikan itu benar, padahal ia adalah pendusta). -sumber sabili.com

Saturday, January 14, 2012

Orang-orang ‘Aneh

Aneh.......kita masih banyak ketawa...  walaupun sedar  mati itu pasti

Allah SWT berfirman (yang artinya): …Di bawahnya ada harta simpanan bagi mereka berdua, sementara ayahnya adalah seorang yang soleh (TQS al-Kahfi [18]: 82).
Dalam sebuah riwayat, saat menafsirkan ayat di atas, Utsman bin Affan berkata, bahwa harta simpanan yang dimaksudkan adalah sebuah lempengan  yang dibuat dari emas, yang tertulis padanya (firman Allah SWT):
Aku hairan terhadap orang yang memahami kematian, sementara ia banyak tertawa. Aku hairan terhadap orang yang memahami bahawa dunia ini fana, sementara ia terus disebokkan oleh dunia itu. Aku hairan terhadap orang yang memahami bahawa berbagai perkara telah ditetapkan sesuai takdir-Nya, sementara ia bersedih atas hilangnya perkara-perkara itu. Aku hairan terhadap orang yang mengetahui adanya Hari Perhitungan, sementara ia terus mengumpul-ngumpulkan harta. Aku hairan terhadap orang yang mengetahui adanya api neraka, sementara ia terus berbuat dosa. Aku hairan terhadap orang yang mengetahui adanya surga, sementara ia malah banyak berleka-leka. Aku hairan terhadap orang yang memahami bahawa syaitan itu musuhnya, sementara ia malah selalu menaatinya (An-Nawawi al-Jawi, Nasha’ih al-‘Ibad, 51)".
Riwayat senada dituturkan oleh al-Baihaqi dari Ali bin Abi Thalib, dari Baginda Rasulullah SAW, bahwa harta simpanan yang dimaksud dalam ayat di atas adalah lempengan emas yang tertulis padanya (firman Allah SWT):
Tidak ada tuhan kecuali Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya. Sungguh aneh orang yang memahami kematian itu pasti, lalu bagaimana mungkin ia banyak berleka-leka. Sungguh aneh orang yang memahami bahwa neraka itu benar adanya, tetapi bagaimana mungkin dia banyak tertawa. Sungguh aneh orang yang memahami bahawa takdir (qadha’) itu adalah benar, lalu bagaimana mungkin dia banyak bersedih. Sungguh aneh orang yang melihat dunia dari waktu ke waktu (bahwa dunia itu fana), lalu bagaimana ia merasa tenteram dengan dunia itu (Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman)".
Penuturan senada juga diriwayatkan oleh Abu Hatim, Ibn al-Mardawaih dan al-Bazzar dari Abu Dzarr al-Ghifari; juga oleh al-Khara’ithi dan Ibn ‘Asakir dari Ibn ‘Abbas ra (Lihat: as-Suyuthi, Ad-Durr al-Mantsur, VI/388)
Ada beberapa ibrah (pelajaran) dari hadith di atas. Pertama:  hadith di atas menegaskan bahwa banyak manusia yang perilakunya sering tidak sesuai dengan pemahamannya. Inilah di antara ciri orang-orang yang berlaku nifaqKedua: boleh jadi ketidaksesuaian perilaku manusia dengan pemahamannya karena ia termasuk orang-orang yang lalai atau terlalaikan. Inilah antara lain ciri dari orang-orang yang disebutkan oleh Allah SWT dalam Alquran sebagai al-ghafil[un].
Berkaitan dengan itu, setiap Muslim, misalnya, pasti meyakini kepastian bakal datangnya kematian. Namun, banyak dari mereka seolah tidak mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian itu, yakni saat ia menghadap kepada Allah SWT. Di sinilah pentingnya kita bukan hanya memahami kematian itu, tetapi juga perlu sering mengingat mati. Sebab, orang yang banyak mengingat mati biasanya akan banyak mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian itu. Nabi SAW bersabda, ”Orang yang cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat mati dan yang paling banyak mempersiapkan diri (menghadapi kematian itu).”(Harits bin Abi Usamah, II/998).
Lalu berkaitan dengan dunia (harta), meski setiap Muslim memahami bahwa dunia dan harta itu fana, banyak di antara mereka  menghabiskan sebahagian besar waktunya untuk mengejar dunia (harta) hingga melupakan Allah SWT. Padahal sudah jelas, meski seseorang hartanya banyak, semua itu tak akan pernah ia bawa saat ia masuk ke liang lahat.
Kemudian tentang takdir ataupun qadha’ juga sudah jelas. Semua ketetapan Allah SWT ini mesti diyakini oleh setiap Muslim. Seorang Muslim, misalnya, harus menyedari, bahwa apa yang memang sudah ditakdirkan Allah SWT sebagai rezekinya, pasti akan ia raih. Ia pun mesti memahami, bahawa musibah yang telah ditakdirkan Allah SWT menimpa dirinya pasti tak akan pernah dapat ia tolak. Karena itu, memang tak selayaknya ia larut dalam penyesalan dan kesedihan saat ditimpa suatu musibah.
Lalu berkaitan syaitan, hal itu juga sudah jelas. Bagi seorang Muslim, syaitan adalah musuhnya yang sejati dan abadi. Dalam Alquran Allah SWT bahkan menyebut syaitan itu sebagai ’aduw[un] mubin bagi manusia. Karena musuh, idealnya syaitan harus ditentang, dilawan dan bahkan diperangi. Karena itu, memang aneh jika seorang Muslim malah banyak mentaati ajakan syaitan dan tertipu dengan bujuk-rayunya.
Selanjutnya, terkait dengan syurga dan neraka, itu pun sudah jelas. Syurga adalah balasan bagi para pelaku ketaatan. Neraka diperuntukkan bagi pelaku kemaksiatan. Yang belum jelas adalah wujud fizik surga dan neraka tersebut karena keduanya termasuk dari perkara ghaib. Karena tidak tampak secara  zahir inilah kebanyakan manusia seolah tidak peduli. Akibatnya, mereka banyak melakukan dosa, padahal katanya mereka takut terhadap azab neraka. Sebaliknya, mereka tidak banyak melakukan ketaatan, padahal katanya syurgalah yang mereka rindukan. Memang aneh! Semoga kita tidak demikian. Wama tawfiqi illa billah. [] abi  -sumber mediaummat.

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails

terima kasih dariku...

Tajuk-tajuk saya

Menyentuh Hati-Peristiwa Almarhum Ustaz Fadhil Noor

Syuhada Chechen. Mereka telah memilih Syahid.